SERANG – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang Toyalis mengatakan, pabrik bihun yang diduga menggunakan formalin terdaftar di Dinkes bernama PT Melati Mas dengan nama dagang Cap Dua Ikan Mujair. Namun setelah dua tahun lalu melakukan pengecekan sampai terjadi penggerebekan oleh Polda Banten, pihaknya belum melakukan pemeriksaan kembali.

“Memang perusahaan tersebut terdaftar di Dinkes dengan nama PT Melati Mas. Kita sudah lakukan pemeriksaan ke sana dua tahun lalu ketika mereka minta izin ke kami. Pada waktu itu, kita hanya periksa kadar formalinnya, karena saat itu lagi ramai soal formalin. Tetapi hasilnya negatif,” kata Toyalis kepada wartawan via telpon seluler, Rabu (27/5/2015) malam.

Dengan hasil tersebut, lanjut Toyalis, Dinkes akhirnya mengeluarkan izin IRT (Industri Rumah Tangga). Sedangkan untuk penggunaan bahan pengawet oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). “Sebenarnya boleh menggunakan bahan pengawet, tapi hanya 0.7 miligram setiap 1 kilogram adonan. Akan tetapi yang terjadi, diduga pihak pabrik menggunakan bahan pengawet yang melebihi dosis,” kata Toyalis.

Lebih lanjut Toyalis mengakui bahwa sejak dilakukan uji laboratorium pada dua tahun lalu, pihaknya tidak kembali memeriksa bahan-bahan baku pembuatan bihun di pabrik tersebut. Kendati demikian, Dinkes sering memberikan penyuluhan kepada IRT mengenai pelarangan penggunaan bahan-bahan berbahaya pada makanan, “Kita sering menyampaikan soal larangan penggunaan bahan-bahan kimia ke makanan terhadap IRT. Namun kita tidak tahu juga di lapangan seperti apa, karena kita tidak bisa setiap saat memantau,” jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, Polda Banten menggerebek pabrik bihun yang diduga menggunakan pengawet dari bahan kimia berbahaya untuk mengawetkan produknya, Selasa (26/5/2015). Pabrik yang terletak di Kampung Waru, Kelurahan Kemanisan, Kecamatan Curug, Kota Serang itu sudah beroperasi selama 10 tahun. (Fauzan Dardiri)
BAGIKAN