CILEGON – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon mencatat angka kematian ibu melahirkan pada 2013 sebanyak 12 orang. Angka ini menurun jika dibandingkan 2012 sebanyak 22 orang.

“Faktor pemicu kematian ibu saat melahirkan umumnya terjadio pendarahan dan tekanan darah tinggi,” ungkap Kepala Dinkes Arriadna saat memberikan pemaparan pada Gerakan Penyelamatan Ibu Melahirkan dan Bayi Baru Lahir di aula Setda Pemkot Cilegon, Kamis (6/3/2014).

Pemicu lainnya, lanjut Arriadna, yakni adanya keterlambatan deteksi risiko tinggi, terlambat merujuk, dan terlambat penanganan di rumah sakit untuk ibu melahirkan sehingga berisiko pada keselamatan sang ibu. “Semua level mempunyai peran untuk menekan angka kematian ibu ini,” sambungnya.

Untuk menekan angka kematian ibu dan angka kematian bayi di Kota Cilegon, Pemkot Cilegon melalui Dinkes membentuk tim kelompok kerja (pokja) gerakan penyelamatan ibu melahirkan dan bayi baru lahir. Tim pokja lintas sektoral itu secara resmi dikukuhkan oleh Walikota Cilegon Tb Iman Ariyadi.

“Terbentuknya tim pokja gerakan penyelamatan ibu melahirkan dan bayi baru lahir dilatarbelakangi adanya fakta-fakta yang menyebutkan bahwa 10 ribu dari ibu melahirkan di Indonesia, mengalami risiko kematian. 80 ribu bayi yang baru dilahirkan pun harus mengalami risiko yang sama, yaitu kematian. Upaya kaderisasi serta menjalankan program posyandu, dengan maksud memberikan pantauan serta penyuluhan kepada setiap ibu hamil mulai dari proses kehamilan, saat melahirkan, sampai sesudah melahirkan merupakan hal penting untuk menekan laju angka tersebut,” ungkapnya.

Sedangkan untuk kematian bayi neonatus (bayi berumur 28 hari). Selama tahun 2013, Dinkes Cilegon mencatat sekira 53 bayi. Penyebabnya beragam, antara lain berat badan lahir kurang, sesak napas, kongenital, dan beberapa penyebab lainnya. (Devi Krisna)