TANGERANG – Kesenian Angklung Gubrak dari Sanggar Putra Kemuning, Kecamatan Kresek, memeriahkan acara Festival Seni Tradisional dan Pasar Rakyat Citra Raya, Minggu (12/11). Acara yang dihelat Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Harian Kabupaten Tangerang, membuat kesenian yang mulai tenggelam tersebut kembali dikenal khalayak ramai.

Angklung Gubrag merupakan kesenian yang lekat hubungannya dengan kebudayaan Sunda Tangerang. Kesenian ini membawa pesan bahwa Tangerang merupakan daerah paling agraris sejak zaman kasepuhan, beberapa abad lalu.

Kesenian ini menjadi penanda musim menanam dan memanen padi bagi masyarakat Tangerang dahulu kala. Angklung menjadi iringan untuk menyambut berkah Tuhan atas limpahan rezekinya. Hingga kini, kesenian tersebut masih dilestarikan oleh keturunan tokoh budaya Sunda Ki Gedoy, ratusan tahun lamanya.

Bagi masyarakat Sunda tempo dulu, hal-hal yang berkaitan dengan perladangan dianggap sebagai suatu yang sakral. Karena diangggap sakral, maka setiap masyarakat yang hendak menanam dan memanen padi harus dilalui dengan sebuah ritual, salah satunya Angklung Gubrag.

Minggu (12/11), kesenian ini ditampilkan secara apik oleh Sanggar Putra Kemuning, Kresek. Pemimpin sanggar Amin (67) yang juga keturunan ke-11 dari Ki Gedoy mengatakan, kesenian ini menjadi sarana untuk memanggil hujan. ”Dahulu Kresek dan sekitarnya terjadi kemarau panjang, lewat kesenian ini kami memanggil hujan dan doa-doa keberkahan agar selalu dilimpahi rezeki,” terangnya.

Namun seiring perkembangan zaman, kesenian ini berkembang menjadi seni pertunjukan dalam acara hajatan khitanan, pernikahan, selamatan tujuh bulanan, dan syukuran pada saat musim panen.

Namun saat ini, kesenian tersebut sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat. Karena kalah tanding dengan ingar bingar kesenian musik modern seperti orgen tunggal dan lain sebagainya. ”Sekarang mah sudah jarang, paling-paling kalau ada orang nazar. Soalnya sekarang mah banyak yang pakai orgen tunggal,” ujar Amin.

Ketua Panitia Festival Seni Tradisional dan Pasar Rakyat Widi Hatmoko menjelaskan, selain memberikan hiburan murah meriah kepada masyarakat, kegiatan ini juga untuk mengangkat kesenian-kesenian tradisional, baik kesenian tradisional lokal Tangerang maupun kesenian tradisional daerah lain yang ada di Kabupaten Tangerang. ”Kegiatan ini juga sebagai upaya untuk memberikan pedidikan budaya kepada masyarakat,” katanya.

Widi mengapresiasi sejumlah sanggar dan manajemen Citra Raya yang telah memberikan waktu dan tempat dalam kegiatan ini. ”kesenian tradisional sudah mulai tergerus oleh kesenian-kesenian modern. Ini adalah tanggung jawab bersama, baik pemerintah, maupun masyarakat. Jadi, jangan sampai generasi kita berikutnya tidak mengenal budayanya sendiri,” jelasnya. (Gugun/RBG)