CIWANDAN – Rencana kerjasama patungan bersama Michelin yang akan membangun pabrik karet sintetis masih menjadi perhatian PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAPC) untuk diungkapkan kepada Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI Franky Sibarany saat melakukan plant visit ke pabrik mereka, Jumat (12/6/2015) sore. Pabrik patungan dengan nama PT Synthetic Rubber Indonesia (SRI) tersebut akan dibangun di Kelurahan Gunung Sugih, Kecamatan Ciwandan, Cilegon.

Vice President Corporate Relation PT CAPC Suhat Miyarso mengatakan, mengingat PT SRI menghasilkan produk yang sebagian besar akan diekspor sehingga menghasilkan devisa bagi negara, maka bantuan pemerintah untuk merealisasikan rencana sangat dinanti.

“Kita membutuhkan dukungan pemerintah dalam bentuk tax holiday (pengurangan atau penghapusan pajak penghasilan sementara). Kita sudah ajukan permohonan bantuan itu ke Kementerian Keuangan, tapi sampai sekarang belum ada keputusan. Kalau itu kita dapatkan, tentu prospek investasi ini akan lebih baik,” ujarnya kepada radarbanten.com.

Disebutkan dia, 45 persen saham pabrik senilai 435 juta US$ itu dimiliki PT CAPC, dan sisanya dikuasai oleh Michelin. Rencana pembangunan kontruksi pabrik yang akan memproduksi 120 ribu ton per tahun itu, lanjut Suhat, diperkirakan akan mulai berjalan pada dua atau tiga bulan ke depan setelah pihaknya menunjuk kontraktor pelaksananya dalam satu bulan ke depan.

“Selama proses konstruksi itu, diperkirakan kita akan menyerap tenaga hingga 2.000 orang, dan akan mulai berproduksi pada akhir 2018 dengan melibatkan tenaga kerja hingga 350 orang,” jelasnya.

Menanggapi adanya permohonan bantuan itu, Kepala BKPM RI Franky Sibarany mengatakan dirinya akan berupaya berkoordinasi lebih lanjut dengan Kementerian Keuangan agar rencana ekspansi itu dapat berjalan mulus.

“Ada banyak benefit yang bisa didapat negara dari ekspansinya CAPC. Tidak hanya benefit di industri hulu, tapi juga akan berimbas pada industri hilir. Karena ekspansi itu otomatis akan meningkatkan produksi mereka selama ini. Kalau ini (SRI) cepat selesai, tentu akan menambah devisa negara. Karena keinginan pemerintah sendiri adalah mengurangi impor, meningkatkan ekspor,” katanya. (Devi Krisna)