CILEGON – Berbagai jenis batu akik ditawarakan kepada pengunjung pada pameran Cilegon Gemstone Fair 2015 di Krakatau Junction, Cilegon. Batu akik siap pakai dihargai mulai dari harga Rp20 ribu hingga ratusan juta rupiah. Salah satu batu yang punya nilai jual tinggi adalah batu akik ijo garut sehingga membuat takjub pengunjung. “Wooow, harganya sedap,” ucap spontan salah seorang pengunjung ketika pedagang menjawab nilai harga sebuah batu akik ijo garut yang ia tanyakan.

Rahmat Al Fatih (36), pemilik batu akik ijo garut mengungkapkan, ia memberikan penawaran Rp150 juta untuk sebuah cincin perak berukuran besar. “Harganya masih wajar, karena jenis ini sulit mencari bahannya karena sudah benar-benar langka,” ujar pria yang mengaku sudah berkutat dengan batu akik sejak 15 tahun lalu itu kepada radarbanten.com, Kamis (12/3/2015).
Rahmat memaparkan, batu akik ijo garut menjadi batu pesaing berat bacan karena memiliki kandungan serupa yakni mineral chrysocolla. “Ini tergolong batu hidup juga dia mampu bermetamorfosis dari hijau menjadi hijau kebiruan karena proses alami. Jadi bagi yang mengenal batu ini, tidak akan kaget dengan harga segitu. Kemarin saja sudah ada yang menawar Rp50 juta dan Rp80 juta. Tapi belum saya lepas,” katanya.

Di arena pameran itu juga terdapat batu akik bernilai fantastis lainnya yang dimiliki Budi Triharyanto (31). Budi mengusung tiga buah batu bacan berukuran besar yang telah diikat dengan cincin perak. “Harganya macam-macam. Ada yang 30, 40, sampai Rp45 juta. Yang sudah laku baru yang seharga Rp5 juta, itu (ukurannya-red) lebih kecil,” ungkapnya.

Ia mengatakan, batu bacan yang ia miliki itu diperoleh langsung dari Halmahera, daerah asal Bacan, melalui temannya pada tiga tahun silam. “Batunya sengaja saya potong berukuran gede. Karena semakin gede, semakin memiliki nilai harga. Bacan ini juga kami jadikan maskot di stand karena banyak peminat dan pemburunya,” jelasnya.

Kendati dari usaha penjualan batu akik berbagai jenis yang dilakukan itu sudah memberikannya keuntungan finansial, namun warga Sumampir, Kelurahan Kebondalem, Kecamatan Purwakarta, Cilegon ini mengaku tidak pernah berfikir untuk meninggalkan pekerjaan utamanya sebagai buruh pabrik. “Saya tidak akan alih profesi dan berhenti dari pekerjaan. Karena, di dunia perbatuan ini kita awalnya cuma dari hobi saja, malah memberikan keuntungan,” jelasnya. (Devi Krisna)