SERANG – Berdasarkan penelusuran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang, kasus kebakaran paling banyak terjadi akibat kelalaian, seperti arus pendek listrik (korslet) dan masyarakat membakar sampah sembarangan. Seperti pada kasus Selasa (12/9) dan Rabu (13/9), ada 5 kejadian kebakaran yang melanda wilayah hukum Kabupaten Serang dan Kota Serang.
Hal itu disampaikan Kabid Pemadam Kebakaran BPBD Kabupaten Serang Tubagus Maftuhi saat dihubungi via telepon, Sabtu (16/9).

Ia memaparkan, dari malam Selasa hingga Rabu lalu, terjadi lima kebakaran berturut-turut. Di antaranya, sebuah madrasah di Kelapa Dua, Kota Serang, Pasar Kalodran di Kecamatan Walantaka, rumah di Waringin Kurung, hotel di Kecamatan Anyer dan satu bengkel berikut rumah di Kecamatan Cinangka.

“Rata-rata kebakaran sedang. Karena tidak merembet kemana-mana, hanya satu tempat,” tuturnya.

“Bulan Agustus dan September ini cuaca panas sekali, kemarau. Alang-alang walau tidak dibakar kadang nyala sendiri. Kena angin, gesekan, dia memanas, mudah terbakar,” kata dia lagi.

Apalagi, lanjut dia, masyarakat kurang memahami pencegahan kebakaran. Biasanya, masyarakat bakar sampah sembarangan, ditinggalkan oleh pemiliknya begitu saja, akhirnya api membesar dan merembet ke permukiman.

Dijelaskan dia, Damkar BPBD Kabupaten Serang yang memiliki 8 unit armada dan 45 personel ini bersinergi dengan Damkar Kota Serang. Pihaknya harus responsif bila terjadi kebakaran, meskipun secara administrasi, lokasi kebakaran masuk pada wilayah kota.

“Kami melihat terdekat, tidak melihat kewenangan. Markas Damkar Kabupaten, kan, adanya di Cilame, seandainya Royal terbakar, kami harus siap. Karena sudah ada MoU secara hukum dan aturan bersama difasilitasi provinsi untuk penanggulangan batas wilayah,” ujarnya.

Maftuhi mengakui, karena keterbatasan anggaran, pihaknya belum mampu memberikan sosialisasi kepada masyarakat secara massif untuk memberikan pemahaman pencegahan dini kebakaran. Meski demikian, ia katakan sudah ada kegiatan bersama relawan kebakaran di tiap desa maupun kecamatan mengenai penanggulangan bencana kebakaran.

“Kalau industri, biasanya mereka sendiri yang memohon pada kami untuk melakukan sosialisasi,” tukasnya. (Anton Sutompul/anton sutompul1504@gmail.com).