Daging Sapi Mahal, Pemprov Siapkan Alternatif Daging Kerbau

Pedagang daging di Pasar Rau, Kota Serang.

SERANG – Menjelang Idul Fitri 1438 Hijriah, ketersediaan ternak sapi potong di Provinsi Banten cukup aman. Namun, harga daging sapi cukup mahal di pasaran sehingga Pemprov Banten menyiapkan alternatif daging kerbau untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. “Kami sudah koordinasi dengan pihak terkait seperti Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) Provinsi Banten dan Disperindag untuk melakukan pengawasan ketersediaan dan harga daging sapi,” kata Kepala Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten Agus M Tauchid kepada wartawan, kemarin.

Menurut Agus, meskipun kebutuhan sapi potong untuk puasa dan Lebaran 2017 meningkat dibanding tahun lalu. Namun, tahun ini pasokan mengalami penambahan. Hanya saja hampir 80 persen pasokan sapi potong masih mengandalkan sapi impor. Sementara sapi lokal hanya menyumbang kebutuhan sekira 20 persen. “Tahun lalu ketersediaan sapi potong bahkan surplus selama Ramadan, untuk tahun ini berdasarkan perkiraan sementara masih cukup aman. Namun, karena harganya mengalami kenaikan, daging kerbau jadi alternatif,” katanya.

Menurut Agus, Banten termasuk daerah dengan konsumsi daging sapi paling banyak setelah Provinsi DKI dan Jawa Barat. Berdasarkan populasi sapi potong tahun lalu adalah 54. 898 ekor dengan perbandingan 70 persen populasi ada di feedloter dan 30 persen ada di masyarakat. Dari data populasi diperoleh bahwa ketersediaan sapi potong di masyarakat sebanyak 4.610 ekor, tetapi yang siap dipotong hanya di kisaran seribu ekor.

Sementara untuk tahun ini, alokasi sapi siap potong di feedloter untuk H-10 sampai H+7 lebaran sebanyak 8.068 ekor, alokasi kerbau siap potong di masyarakat sebanyak 3.950 ekor. Adapun produksi daging sapi dan kerbau sebanyak 2.683 ton. Sedangkan konsumsi daging sapi dan kerbau sebanyak 2.383 ton.

Dinas Pertanian‎, lanjut Agus, sedang mendata ulang ketersediaan sapi potong dan kerbau potong yang berada di masing-masing feedloter yang ada di Banten. “Masyarakat kita di bulan Ramadan seperti yang kita tahu sangat tinggi tingkat konsumsinya terhadap daging sapi, karena hampir semua orang secara bersamaan membuat menu yang bahan dasarnya dari daging,” ungkapnya.

Untuk memenuhi kebutuhan daging, Distan menyiapkan ketersediaan daging kerbau. Selain harganya lebih murah, pasokan daging kerbau relatif lebih aman. “Kementerian Pertanian sudah menambah impor daging sapi, namun harganya cukup tinggi. Makanya kami siapkan daging kerbau,” katanya.

Terkait lonjakan harga daging sapi, pihaknya mengandalkan survei ke lapangan. Untuk itu, Agus mengaku akan memperbanyak pasokan ke pasar, karena dari hasil analisa di lapangan yang membuat harga daging melonjak bukan dari feedloter, tetapi dari para pedagang di pasar. “Para pedagang menganggap hari raya adalah waktu yang pas untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya, stok banyak saja masih bisa para pedagang menaikkan harga apalagi stok terbatas, karena itu kita harus memasok sebanyak-banyak,” katanya.

‎Terpisah, Kepala Disperindag Banten Babar Suharso menambahkan, berdasarkan hasil pantauan di lapangan, harga daging sapi di atas Rp 110 ribu per kilogram. Pada awal Juni harganya naik mencapai Rp 117.500 sementara pada 13 Juni turun menjadi Rp 114.286 atau turun Rp 3.214 per kilogram. “Harganya fluktuatif, namun dibandingkan sebelum Ramadan harga daging sapi naik cukup tinggi,” ungkapnya.

Babar melanjutkan, pihaknya sudah melakukan sidak ke sejumlah pasar induk yang ada di Banten. Sejumlah bahan pokok sudah mulai naik, beberapa angka kenaikannya hingga di atas 20 persen dari harga biasanya. Dikatakan Babar, pemantauan terus dilakukan meskipun sejak Mei pihaknya telah melakukan sidak ke Pasar Induk Rau bersama Sekretaris Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Jan Darmadi‎. Menurut Babar, Banten temasuk empat provinsi yang dikaji oleh pemerintah pusat dalam bidang pertanian jelang Ramadan, khususnya lima komoditas yakni daging, beras, bawang merah, bawang putih, dan cabai merah. “Pemerintah pusat meminta keberadaan Bulog (Badan Urusan Logistik) di Banten harus dimaksimalkan untuk memastikan stok sembako selama Ramadan terjamin,” ungkapnya.

Sebelumnya, Asda II Pemprov Banten, Ino S Rawita menuturkan, Pemprov bersama Polda Banten telah membentuk Satgas Pangan yang bertugas memantau dan mengawasi stok bahan pokok di pasaran jelang Ramadan hingga Lebaran. “Berbagai langkah dan kegiatan untuk menekan kenaikan harga sembako telah disusun Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), di antaranya melakukan operasi pasar, melakukan pemantauan terhadap semua kompetitor dan para spekulan bisnis pangan pokok, melakukan pemantauan harga pangan, melakukan pemantauan ketersediaan pangan, melakukan pematauan keamanan pangan, menindak tegas penimbun sembako.

Ino mengakui, sejumlah bahan pokok sudah mulai naik seperti cabai, bawang, daging, dan telur. Untuk komoditas yang sudah mengalami kenaikan harga, nantinya akan ditekan agar kembali stabil melalui operasi pasar. “Terkait teknis dan pelaksanaan operasi pasar, skemanya telah dipersiapkan Disperindag Banten,” jelasnya. (Deni S/RBG)