SERANG – Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Banten Mashuri menilai lonjakan harga daging sapi sebagai pelajaran bagi masyarakat dan pemerintah.

“Dengan lonjakan harga ini mengindikasikan kebutuhan masyarakat Banten terhadap daging sapi sangat tinggi, sedangkan keteraediaan hewan ternak dan daging dalam daerah tidak mencukupi. Jika diambil pelajaran, ini adalah peluang usaha yang besar,” kata Mashuri, Selasa (11/8/2015).
Menurut Mashuri, Banten punya potensi dan cocok untuk membuka peternakan. Kekayaan alam dan masih banyaknya lahan kosong bisa menjadi penunjang lain usaha ini selain minat pembelinya saja.
Saat ini jumlah Rumah Potong Hewan (RPH) di Banten cukup banyak namun tidak diimbangi dengan banyaknya peternakan, karena itulah tidak terjadi keseimbangan dan membuat harga daging mahal.

“Jumlah hewan ternak dari dalam daerah hanya 10 persen dari kebutuhan, selama ini hewan dipasok dari daerah lain seperti Lampung. Karena membutuhkan biaya produksi yang banyak, maka harga daging dari dalam daerah lebih mahal dibanding impor, padahal seharusnya hal tersebut tidak terjadi jika hewan ternak itu ada di daerah kita sendiri,” papar Mashuri.
Mashuri pun menyarankan kepada Pemprov Banten untuk membuat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang bergerak di bidang peternakan ini. “Kalau Disperindag tidak bisa membuka usaha ternak, ya BUMD,” katanya. (Bayu)
BAGIKAN