Dua Sekolah di Cilegon Telah Masukan Mulok Bahasa Bebasan

Heri Mardiana

CILEGON – Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) Kota Cilegon terus mendorong bahasa daerah asli Cilegon yakni Bebasan, masuk dalam pelajaran muatan lokal (Mulok) di setiap sekolah dasar. Meski belum diwajibkan masuk dalam pelajaran mulok, namun saat ini telah ada dua sekolah yang telah mengajarkan peserta didiknya mempelajari bahasa Bebasan itu.

“Di beberapa sekolah masih ada yang secara mandiri, dengan inisiatif sendiri, tanpa ada instruksi dari Dinas Pendidikan memberikan Mulok itu dengan bahasa Bebasan. Itu di Sekolah Madani dan Uswatun Hasannah,” ujar Tini, Kabid Kebudayaan pada Disparbud Cilegon saat ditemui di gelaran sarasehan bahasa Bebasan, Selasa (14/11).

Ia memuji langkah yang diambil sejumlah sekolah itu. Alasannya menjaga kearifan lokal dengan mempertahankan budaya asli daerah agar tidak tergerus dengan budaya dari luar. “Mereka itu menyadari bahwa Cilegon itu bahasa Jawa-nya ada, tapi masyarakatnya heterogen. Banyak penduduk dari luar, pendatang,” katanya.

Ia menyebut bahasa daerah merupakan identitas yang harus dijaga keberadaannya. Sarasehan yang digelar ini mengajak peserta didik sekolah dasar agar mengenali percakapan pengenalan diri dengan lingkungan sekitar menggunakan bahasa Bebasan. “Tentang bagaimana komunikasi antar teman, dan orang yang lebih tua. Di situ kan ada perbedaannya,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Disparbud Cilegon Heri Mardiana mengatakan sarasehan yang digelar lebih kepada kursus bahasa Jawa-Cilegon. Kata dia, Bebasan disebut juga bahasa Jawa-Banten yang merupakan bentuk komunikasi masyarakat Banten yang telah ada dan berkembang sebagai bentuk komunikasi di masyarakat. “Penggunaan bahasa, dan sastra Jawa-Cilegon menjadi faktor pendukung bagi tumbuhnya jati diri dan kebanggaan daerah,” ucapnya.

Untuk diketahui, saat ini Disparbud Cilegon tengah menyusun Peraturan Walikota (Perwal) tentang penggunaan, pengembangan dan pemeliharaan bahasa Jawa-Cilegon yakni Bebasan. “Perwal ini sangat diperlukan, yang pada akhirnya nanti dapat mendorong pengembangan bahasa Jawa-Cilegon di bidang pendidikan, pemerintahan, dan kemasyarakatan,” ujarnya. (Riko Budi Santoso/rikosabita@gmail.com)

BAGIKAN