Ego Firnando (kiri) bersama rekannya pemain karinding Kiwong mengibur sosialisasi Panwaslu di RM Bambu Oju, Neglasari, Kota Tangerang, Rabu (29/11).

Beatbox semakin familiar terdengar di kalangan pencinta musik Indonesia selama satu dekade terakhir. Musik yang keluar lewat mulut pemainnya dengan mengimitasi suara perkusi itu kini terus menyebar ke sejumlah daerah, termasuk Kota Tangerang.

Suasana acara sosialisasi pengawasan pemilu partisipatif yang digelar Panwaslu Kota Tangerang di Rumah Makan Bambu Oju, Neglasari, Kota Tangerang, Rabu (29/11), pecah setelah Ego Firnando (21) unjuk kebolehan dengan lantunan musik progresif yang keluar melalui mulutnya.

Beatboxer—sebutan untuk pemain beatbox ini berhasil menghipnotis Koordinator Divisi Pencegahan dan Hubungan Antar Lembaga Bawaslu Banten Nuryati Solapari, Ketua Panwaslu Kota Tangerang Agus Muslim, dan puluhan peserta sosialisasi dari puluhan komunitas masyarakat.

Ya, Ego bukanlah nama baru dalam seni yang memfokuskan diri dalam menghasilkan bunyi-bunyi ritmis dan ketukan drum, instrumen musik, maupun tiruan dari bunyi-bunyian lainnya, khususnya suara turntable. Mahasiswa semester tiga program studi manajemen Universitas Pamulang itu sudah malang melintang di kompetisi nasional hingga internasional. Ia pun kini telah menjadi raja beatbox di wilayah Tangerang Raya.

”Saya sudah tahu beatbox waktu kelas 2 SMP. Awalnya, saya tahu dari temen-temen SMPN 6 Tangerang. Saat kelas 3, saya mulai belajar teknik dasar bersama temen-temen SMP,” kata Ego ketika membuka obrolan dengan Radar Banten, Rabu (29/11).

Ego Firnando (kanan).

Seiring berjalannya waktu, Ego remaja terus belajar lebih mendalam mengenai teknik dan efek-efek beatbox saat menimba ilmu di SMK Nusantara 1 Tangerang. Proses pembelajaran berlangsung otodidak. ”Saya belajar otodidak dengan melihat YouTube. Lalu bersama adik kelas, saya membuat komunitas Nusantara One Beatbox Community yaitu gabungan internal pelajar SMP dan SMA/SMK Nusantara 1,” ujarnya.

Setelah bertahun-tahun mempersiapkan diri, Ego untuk kali pertama tampil dalam kompetisi lokal Hexos Beatbox Championship 2013 di Tangcity Mall. Hasilnya tidak jelek-jelek amat, ia mampu menyabet gelar juara tiga.

Tropi perdana sebagai jawara beatbox berhasil dicapainya saat Java Beatbox Festival 2015 di Jogjakarta. Sekaligus dilantik sebagai juara satu Indonesian Beatbox Championship. Warga Jalan Subandi No. 95 RT 3, RW 5, Kampung Mumunggang, Kelurahan Margasari, Kecamatan Karawaci, itu tampil dengan membawa nama Kota Tangerang.

Di Jogja suasana hati Ego campur aduk. Ada rasa haru, senang, dan bangga. Karena selain menjadi pemenang, ia akhirnya bisa bertemu langsung juara beatbox dunia yaitu Mael Gayaud atau akrab disapa Alem. Beatboxer asal Prancis itu hadir sebagai dewan juri bersama founder Swiss Beatbox dan Billy, beatboxer terbaik Indonesia.

Tidak cuma itu, Ego pun menjadi beatboxer Indonesia pertama yang masuk Swiss Beatbox –organisasi beatbox dunia. ”Tahun 2015 itu adalah tahun penuh kenangan. Mimpi saya untuk berjumpa Alem akhirnya terkabul. (Bertemu Alem-red) Itu impian saya semenjak kenal dengan beatbox,” ungkapnya.

Kiprah Ego dalam beatbox terus menanjak. Pada Maret 2016, ia mewakili Indonesia untuk tampil dalam Beatbox Battle Royale di Singapura. Meski hanya runner-up, pencapaian Ego cukup membanggakan karena mampu menyingkirkan 30-an beatboxer Asia dan Eropa. Ia cuma kalah dari beatboxer asal Jepang. Prestasi di Singapura itu membuatnya diundang menjadi dewan juri dalam acara Armageddon Beatbox Batlle di Malaysia pada Juni tahun yang sama.

Perjalanan karir Ego sebagai beatboxer tak selalu mulus. Kedua orang tuanya, Supirman (48) dan Ina (44) sempat memberikan penolakan terhadap kecintaan sang anak terhadap hobinya tersebut.

”Ya paling menentang ialah mama. Alasannya berisik. Apalagi mama sangat terganggu saat ia bermain beatbox di kamar. Tapi setelah sering dapat juara, akhirnya mereka mendukung penuh talenta Ego,” kata anak sulung dari empat bersaudara ini.

Kendala lainnya ialah saat video wildcard berdurasi dua menit terpilih dan masuk 16 besar Asia Beatbox Championship di Taiwan pada Agustus 2016. Panitia penyelenggara telah meminta Ego untuk berangkat ke Taiwan, tapi rencana itu terhalang karena dana dan visa.

”Kalau untuk berangkat, dananya cukup. Tapi untuk pulang tidak ada. Sedih dan kecewa saat itu, karena saya yakin bisa menang. Keesokan harinya saya langsung sakit, karena kepikiran tidak bisa berangkat. Karena saya yakin bisa kalahkan Piratheban asal Singapura (Juara Asia) yang pernah tersisih saat 16 besar Beatbox Battle Royal di Singapura,” terangnya.

Meski gagal peform di Taiwan, Ego tetap bertekad menggapai cita-citanya untuk kembali go internasional. Bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam Tangerang Beatbox, ia terus berlatih dan belajar demi mempersiapkan diri menjelang kejuaraan dunia World Beatbox Championship (WBC) 2018 di Berlin, Jerman.

”World Beatbox Championship 2018 di Berlin polanya sama dengan di Taiwan. Kita cukup buat video wildcard berisi tentang penampilan saya bermain beatbox. Lalu, panitia yang memilih,” ucap lajang berkacamata ini.

Karena belum memiliki sekretariat sendiri, Ego dan komunitasnya sering berlatih sambil menggelar kopi darat di alun-alun Kota Tangerang, Lapangan Ahmad Yani, setiap Minggu sore sampai sebelum magrib. Selain kuliah dan latihan, ia juga menjadi tenaga pengajar untuk ekstrakurikuler beatbox di SMKN 3 Tangerang, SMAN 5 Tangerang, dan SMK Bhakti Anindya.

Kerja keras ini semata-mata dilakukan Ego demi mengumpulkan modal buat ke Berlin. ”Saya tidak ingin membuang kesempatan lagi. Mudah-mudahan Indonesia Beatbox dan pemerintah bisa mendukung cita-cita saya,” pungkasnya.
(Segan PS)

BAGIKAN