Darwin Mahesa (tengah)

SERANG – Kremov Fictures kembali menggarap film sejarah bernuansa kearifan lokal Banten. Sebelumnya telah sukses membuat film Perempuan Lesung, Ki Wasyid, Golok Lanang Wanten dan film lainnya. Kini, Kremov membuat film tentang sosok Sultan Banten abad 16, berjudul Tirtayasa-The Sultan of Banten yang diperankan oleh aktor nasional, Krisna Murti Wibowo.
“Tirtayasa itu sosok pahlawan Banten yang banyak dikenal oleh orang, namun kebanyakan juga mereka hanya mengenal nama tanpa tau kisah sejarahnya. Karena itulah kami angkat film tentang Sultan Ageng Tirtayasa,” ungkap Direktur dan CEO Kremov Ficture Darwin Mahesa saat lakukan shooting di Banten Lama, Kota Serang, Minggu, (13/8).

Pria yang sudah membidani banyak film lokal ini, mengangkat sisi menarik Sultan Ageng Tirtayasa dalam hidupnya pada abad-16 Banten sejahtera, hingga menjadi pelabuhan internasional dan termashyur di Asia Tenggara.

“Kami melibatkan aktor nasional, seperti Krisna Murti Wibowo yang telah malang melintang di dunia film dan sinetron, kemudian ada aktor bule yakni Claudio Hernan, dan aktor lokal Banten seperti Damanick, Tubagus Dian serta Selvy Kanesya yang merupakan anak-anak muda Banten yang mendampingi Krisna sebagai Sultan Ageng Tirtayasa,” ujar pria berparas tampan ini.

Awalnya, ia bersama timnya, membidik 4 kandidat untuk memerankan Sultan Ageng Tirtayasa yakni Anjasmara, Fachri Albar, Mario Irwinsyah dan Krisna Murti, namun Darwin, begitu nama sapaannya,  selaku director memilih Krisna Murti Wibowo dengan berbagai pertimbangan, salah satunya adalah karakter yang sangat cocok untuk tokoh sultan di periode matang.

“Di film yang kami produksi ini bercerita bahwa Sultan berusia 50 tahunan yang memiliki putra mahkota Sultan Haji dan Pangeran Purbaya, karenanya saya merasa Krisna lebih cocok,” papar Darwin.

Lokasi shooting film terbarunya ini di Banten Lama, Kota Serang, dan beberapa pulau di daerah Banten. Sayang, saat ditanya pulau mana saja secara rinci, ia masih merahasiakannya karena dalam filmnya itu, Kremov ingin menawarkan kejutan akan keindahan alam yang ada di Banten, sehingga bisa mengangkat daerah pulau itu.

Kata Darwin, pembuatan film ini jelas ada tantangan tersendiri, ia bersama kru harus membuat setting abad-16. “Mulai istana, pasar sampai kapal layar. Ya, kami buat semaksimal mungkin, saya menyerahkan sepenuhnya kepada tim artistik Kremov Pictures untuk berkreasi,” ucapnya.

Ia mengaku mengalami kendala seperti terbatasnya anggaran, banyak pungli dari beberapa oknum saat di lokasi shooting, padahal sudah mengantongi izin resmi dari Balai Pelestarian Cagar Budaya, beberapa tokoh budayawan dan ahli sejarah, sampai Kesultanan Banten.

“Film ini ada 30 scene, setiap adegannya cukup berat terutama di set lokasi, namun saya sangat bangga memiliki teman-teman kru yang sanggup berjuang siang malam untuk kesempurnaan adegan di film ini,” ucap pria yang pernah menimba ilmu perfilman di Selandia Baru.

Film ini difasilitasi oleh Direktorat Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Kremov Pictures sebelumnya telah melalui seleksi ketat dengan puluhan komunitas lain, kemudian terpilih menggarap produksi film sejarah berjudul Tirtayasa-The Sultan of
Banten.

“Untuk penayangan secara nasional tentu menjadi urusan dari Kemendikbud yang memiliki hak produksi. Sebelumnya kami akan mengadakan screening khusus di XXI Cilegon,” tuturnya.

Ia berharap film ini dapat diterima masyarakat terutama pelajar dan mahasiswa agar mengenal pahlawan bukan sekadar nama, namun kisah sejarah perjuangannya pun dapat diketahui dengan baik dan ditiru semangatnya. (Anton Sutompul/antonsutompul1504@gmail.com).