SERANG – Sekilas, ratusan masyarakat yang melakukan kegiatan di salah satu sudut Alun-alun Timur Serang, tepatnya di samping Gedung Olahraga Maulana Yusuf nampak seperti masyarakat pada umumnya. Mereka tetap nampak modis kendati dengan kaos seragam putih dan merah, dan dari kejauhan terlihat gembira sembari melihat dua orang berkaos sama sedang beradu akting.

Satu mungkin yang terlihat nampak aneh, yaitu tidak ada satupun pengeras suara dalam kegiatan tersebut. Tertarik, saya pun mendekati, namun akhirnya saya dibuat bingung karena saat saya bertanya tidak ada satu pun peserta yang menjawab hingga akhirnya ada satu remaja yang datang menghampiri saya dan menjelaskan apa yang terjadi.

“Ini teman-teman dari Gerkatin (Gerakan Untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia) Banten, sedang memperingati hari Tuli International,” kata Rully (25) menjelaskan dilokasi kegiatan, Minggu (27/9/2015).

Tertarik, akhirnya saya pun memutuskan untuk melakukan wawancara dengan pihak penyelenggara. Bingung sekaligus kaget kembali saya rasakan ketika Rully memanggil seorang perempuan yang akan menjadi narasumber saya tanpa suara hanya gerakan tangan. Rupanya, yang akan menjadi narasumber saya pun tuna rungu. Yang saya kagetkan dan menjadi pertanyaan adalah bagaimana caranya teman-teman tuna rungu ini bisa membuat rangkaian acara yang seluruh pesertanya dari kalangan tuna rungu.

Dengan bantuan Rully, saya bisa melakukan wawancara dengan Yohana (34), penderita tuna rungu yang juga sebaga Ketua Gerkatin Banten.

“Acara ini dari dilakukan diseluruh dunia, karena hari ini sedang menyelenggarakana haru tuli international. Sebenarnya hari tuli internationalnya jatuh pada tanggal 29 September, tapi diperingatu hari ini pada hari Minggu, karena libur,” kata Yohana dengan isyarat tangan yang diterjahkan oleh Rully.

Menurut keterangan perempuan asal Jakarta tersebut, ada sekitar 135 orang berasal dari Kota Serang, Kota Cilegon, Kabupaten Rangkasbitung, Kabupaten Padeglang, Kota Tangerang, Kota Tangsel, Bogor, dan Lampung.

“Rangkain acaranya ada Longmarch, menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan bahasa isyarat, pemilihan tempat hari tuli intenational tahun depan, penampilan kreativitas seni seperti pantomim, dan ramah tamah,” papar Rully meneruskan Yohana.

Melalui Rully, Yohana menjelaskan, dalam acara ini Gerkatin pun mensosialisasikan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). Ini dilakukan agar banyak masyarakat luas tahu tentang Bisindo dan tidak lagi bersikap diskriminatif kepada para penderita tuna rungu.

“Saat ini masyarakat masih memosisikan kami di bawah, kami berharap pemerintah ikut membantu mensosialisasikan Bisindo kepada masuarakat,” katanya.

Di Banten sendiri ada enam Dewan Pengurus Cabang di delapan kabupaten/kota minus Kabupaten Serang dan Kabupaten Tangerang. Sekitar 200 masyarakat penderita tuna rungu yang telah bergabung. Namun Yohana yakin banyak dari masyarakag Banten yang bermasin sama yang belum bergabung.

“Mungkin mereka belum kenal Gerkatin, yang ingin bergabung datang saja ke Gerkatin masing-masing daerah, di sini teman-yeman tuli diajarkan Bisindo, wirausaha, seni dan kerajinan seperti menyulam,” papar Yohana. (Bayu)