SERANG – Kenaikan harga bahan bakar miyak (BBM) bersubsidi dikeluhkan oleh Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Serang karena kenaikan harga tersebut tidak dibarengi dengan kenaikan harga ikan.

Ketua HNSI Kota Serang Dindin Syamsudin melalui ponsel, kepada wartawan, Selasa (7/4/2015) malam, mengatakan, sejak pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi pada November tahun lalu hingga kenaikan pada dua pekan lalu, nelayan semakin terpuruk karena sulit mendapatkan keuntungan.

“Tidak ada kenaikan harga ikan. Seharusnya mah dibarengi, harga BBM naik, harga ikan juga harusnya naik,” ungkap Didin.

Dindin mengatakan, kenaikan harga BBM tidak selalu berdampak pada kenaikan harga ikan dari nelayan. Hal ini dikarenakan, harga ikan sudah ditentukan oleh tengkulak sehingga nelayan tidak memiliki pilihan. “Kondisi nelayan sudah sulit, diperparah dengan kenaikan harga BBM. Untuk perbekalan ke laut juga kan seperti beras, rokok ikut naik. Jadi penghasilan juga berkurang,” katanya.

Didin menjelaskan, kesulitan nelayan ditambah dengan pengelolaan pengawasan distribusi solar dari SPBU Khusus Nelayanan yang lemah. Pihak pengelola SPBU seringkali membiarkan nelayan membeli solar dalam jumlah banyak. Ini berakibat pada nelayan lain yang tidak mendapat jatah solar lantaran kehabisan. (Fauzan Dardiri)

BAGIKAN