MEROSOTNYA harga minyak tahun ini sekitar US$ 50 per barel, membuat banyak perusahaan minyak dan gas bumi (migas) memangkas belanja modal (capital expenditure/capex) dan belanja operasi (operating expenditure). Akibatnya banyak pekerja kontraktor atau perusahaan jasa pendukung proyek migas menganggur saat ini.

“Angka pastinya belum ada, tapi perkiraan kami banyak yang menganggur atau di rumahkan, karena banyak KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) yang memangkas dana capex dan opex-nya,” kata Deputi Pengendalian Dukungan Bisnis, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudianto Rimbono, kemarin.

Dia mengungkapkan, pemangkasan capex dan opex tersebut bisa dilihat dari revisi rencana kerja dan anggaran (work, program, and budgeting/WP&B) tahun buku 2015, di mana banyak KKKS menunda proyek investasinya seperti eksplorasi migas atau pencarian atau penemuan cadangan minyak dan gas baru.

Dalam revisi WP&B 2015, selain memangkas proyek eksplorasi, KKKS juga menurunkan produksinya. Total produksi minyak turun tahun ini sebanyak 22.000 barel per hari, dari awalnya ditargetkan 850.000 barel per hari menjadi hanya 825.000 barel per hari. “Bahkan di awal tahun lalu KKKS hampir menyetop seluruhnya proyek eksplorasinya, namun kami dari SKK Migas meminta itu ditinjau lagi, KKKS diminta bicara ke kontraktor jasa penunjangnya, cari jalan keluar, apakah menurunkan biaya sewa jasa atau lainnya. Makanya masih ada beberap proyek yang bisa dikerjakan,” ungkapnya.

Sebelumnya, Presiden Direktur PT Apexindo Pratama Duta, Zainal Abidiansyah Siregar mengungkapkan, kontraktor jasa penunjang banyak yang mengeluhkan sepinya tender proyek migas. “Saat ini tender dari perusahaan migas itu nggak ada sama sekali, ini karena banyak perusahaan pangkas capex (capital expenditure) habis-habisan. Dampaknya ke kami, pelaku usaha pendukung,” ungkap Zainal. (RB/rbc)

BAGIKAN
Just another simply photojournalist