Hikmah Ramadan : Tentang Hati

Oleh Machdum Bachtiar, Kepala Kementerian Agama Kota Serang

Memperbanyak baca Alquran saat Ramadan. Foto: Jawa Pos

Tidak dapat dimungkiri, hati adalah penyumbang terbesar dalam memproduksi dosa dan dapat menggerogoti amal kebaikan setiap manusia. Intinya hatilah yang dapat menyelematkan dan menjerumuskan seseorang. Ibadah setiap seseorang bukan jaminan dan ukuran bagi seseorang untuk mendapatkan surga karena hanya Allah-lah yang mengetahui apa yang sebenarnya motif seseorang itu dalam setiap beribadah.

Sangat beralasan bila Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sesungguhnya setiap amalan memiliki motivasi dan tujuan. Sebuah amalan tidaklah terhitung sebagai ketaatan kecuali jika hanya terdorong oleh sekedar rutinitas (kebiasaan), hawa nafsu, atau mencari pujian semata.” Masalah hati ini bukan perkara kecil, melainkan perkara yang besar sehingga tidak heran bila Rasulullah saw bersabda, “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal darah, apabila ia baik maka seluruh tubuh akan baik, dan apabila rusak maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah ia adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tentang  hati, minimal  dapat diklasifikasikan menjadi tiga. Pertama, hati yang sehat dan bersih. Allah berfirman dalam Quran surat As-Syu’aro ayat 88-89: “(Yaitu) hari di mana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” Hati yang bersih adalah hati yang senantiasa mengingat Allah swt. Ketika mendengar ayat-ayat Allah maka hatinya bergetar dan semakin bertambah keimanannya. Hati yang bersih menempatkan cintanya hanya kepada Allah swt. Ia akan rela melakukan apa pun yang Allah perintahkan, dan berusaha untuk selalu menjauhi apa yang telah dilarang-Nya.

Orang yang memiliki hati yang bersih akan selalu merasa bersalah dan bersedih jika suatu waktu ia lupa dan lalai karena tidak memanfaatkan waktunya dengan semaksimal mungkin. Ia akan merasa sayang jika waktunya hanya terbuang sia-sia untuk sekadar bermain game, menonton televisi, mengobrol, menongkrong, melamun, dan tidur tanpa mengenal waktu. Karena baginya waktu itu amatlah berharga untuk dilakukan dengan sesuatu yang jauh lebih bermanfaat.

Kedua, hati mati. Hati mati adalah hati yang keras laksana batu. Sangat bertolak belakang dengan hati yang bersih. Hati yang mati jauh dari hidayah dan sulit menerima kebenaran. Nasihat yang diberikan ibarat angin lalu, bahkan dianggap merendahkan derajatnya. Hati yang telah mati sama sekali tidak mengenal Rabb-nya, tidak mau beribadah, tidak patuh dan taat atas perintah Allah dan rasul-Nya. Ia seperti orang tuli yang tidak mau mendengar nasihat seperti orang bisu yang tidak bisa bertanya dan seperti orang buta yang tidak bisa melihat kebenaran. Allah berfirman dalam Quran surat Al-Baqarah ayat 18:  “Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).”

Ia tidak akan pernah merasa takut, selalu mengikuti kata hati yang tidak peduli dengan kemurkaan Allah SWT. Mencintai sesuatu karena nafsu dan membencipun karena nafsu. Maka apabila berkumpul dengan para pemilik hati yang telah mati merupakan suatu bencana, bergaul dengan mereka adalah racun, dan duduk-duduk dengan mereka adalah suatu kehancuran.  Tentang hati mati ini digambarkan  Allah SWT, dalam firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang kafir sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (QS. Al-Baqarah: 6-7).

Ibnul Qayyim dalam bukunya Ighatsatul Lahfan min Mashasyidisy Syaithan menyatakan: “Ketika nafsu telah menjadi pemimpinnya, syahwat sebagai komandannya, kebodohan sebagai supirnya dan kelalaian sebagai kendaraannya, itu merupakan salah satu indikasi dari matinya hati.”

Ketiga, hati yang sakit. Yaitu hati yang senantiasa gundah, ragu, dan tidak pernah merasakan ketenangan dan kenikmatan dalam ibadah. Hati yang sakit itu bersumber dari lemahnya akhlak, tidak ada kehati-hatian, terlena dengan kehidupan dunia, perasa dan menyia-nyiakan waktu. Jika keenam sumber masalah pada hati itu tidak terjaga, hati akan menjadi sakit. Orang yang hatinya sakit ketika membaca atau mendengar lantunan ayat suci Alquran, ia tidak akan menikmati bacaan, tidak akan bergetar hatinya, bahkan ia tidak betah berlama-lama membaca Alquran. Ini disebabkan karena di dalam hatinya terdapat penyakit ujub, ria, dan takabur sehingga tidak pernah merasakan kehadiran Allah swt dalam setiap nafasnya.

Di dalam hati yang sakit terdapat dua penyeru, yakni penyeru untuk kembali pada ketaatan dan penyeru yang mengajaknya dalam kemaksiatan, syahwat, dan fitnah dunia. Mereka yang termasuk dalam kelompok ini adalah mereka yang menegakkan siar Islam dengan dalih rekonsiliasi, toleransi, saling menghargai dan rasa tidak enak sehingga mereka menebar virus negatif di masyarakat dan dalam setiap pergaulannya. Semoga kita tergolong pada pada orang-orang yang memiliki hati yang bersih, hidup, dan sehat. Amin. (*)

Machdum Bachtiar, Kepala Kementerian Agama Kota Serang