Hingga Agustus Wilayah Banten Masih Alami Fenomena Kemarau Basah

Tri Tjahjo
Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Klas I Serang, Tri Tjahjo.

SERANG – Meskipun tengah memasuki masa musim kemarau, namun wilayah Provinsi Banten akan tetap mendapatkan guyuran hujan, sehingga kondisi cuaca demikian sering disebut dengan kemarau basah. Hal ini disebabkan karena adanya fenomena turunnya suhu permukaan air laut di Samudera Pasifik yang lebih rendah dari wilayah sekitarnya, fenomena ini disebut La Nina.

Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Klas I Serang, Tri Tjahjo mengatakan, bulan Juni ini sebanarnya sudah masuk pada musim kemarau. Kendati masih sering diguyurnya hujan, ada tiga unsur mengapa Provinsi Banten masih alami musim tersebut. “Yang pertama adanya indikasi La Nina lemah, sehingga efeknya sudah mampu menambah intensitas hujan, kemudian La Nina akan menguat pada bulan-bulan selanjutnya. Selanjutnya yang kedua, suhu muka laut di wilayah perairan hangat 30 derajat celcius, yang mengakibatkan terjadi penguapan yang menjadi awan, sehingga menjadi curah hujan bertambah. Dan yang ketiga, adanya aliran massa udara dari Afrika Timur, yang menjadi bibit adanya curah hujan, Dipole Mode Index (DMI),” jelasnya, saat dihubungi melalui sambungan telepon seluler, Jumat (17/6).

“Tiga faktor ini sangat mendukung curah hujan pada umumnya. Diprediksi, La Nina masih menguat pada bulan Juli dan Agustus yang lebih dikenal dengan kemarau basah. Dan La Nina diprediksi akan ada hingga musim hujan,” tuturnya.

Dari adanya La Nina tersebut, masyarakat di Provinsi Banten diminta waspada terhadap tiga bencana yang dapat mengancam kapan saja. Ketiga bencana tersebut yakni banjir, longsor, dan puting beliung. Pihaknya merilis daerah yang rawan bencana di Provinsi Banten antara lain, untuk Kabupaten Serang serang sebanyak 21 kecamatan rawan bencana banjir dan dua kecamatan rawan longsor yakni Kecamatan Bojonegara dan Cikeusal. Kemudian Kota Serang daerah yang rawan banjir sebanyak empat kecamatan yakni Kecamatan Kasemen, Serang, Cipocokjaya, dan Walantaka.

Selanjutnya di Kabupaten Lebak daerah rawan banjir sebanyak lima kecamatan yakni Malingping, Banjarsari, Cimarga, Rangkasbitung, dan Cibadak. Sedangkan untuk daerah yang rawan longsor yaitu Kecamatan Cipanas, Muncang, Cibeber, dan Bayah. Untuk Kabupaten Pandeglang daerah rawan banjir sebanyak delapan kecamatan yakni Labuan, Pagelaran, Cikedal, Perdana, Patia, Sukaresmi, Panimbang, Sumur, dan Carita. Dan untuk daerah rawan longsor sebanyak tiga kecamatan yaitu Pandeglang, Cadasari, dan Mandalawangi.

“Daerah Tangerang Selatan empat kecamatan yang rawan banjir yaitu Serpong, Ciputat, Pondok Aren, dan Ciputat Timur. Kota Tangerang daerah rawan banjir sebanyak 13 kecamatan, Kabupaten Tangerang sebanyak 22 kecamatan. Sedangkan untuk Kota Cilegon daerah rawan longsor yakni Cibeber, Cilegon, Purwakarta, dan Grogol. Sedangkan untuk daerah longsor, yakni Pulomerak dan Purwakarta,” paparnya.

Oleh karena itu pihaknya mengimbau agar masyarakat selalu waspada, karena bencana dapat datang kapan saja. Selain berpotensi bencana, La Nina juga dapat menguntungkan serta merugikan petani. (Wirda)