SERANG – Nelayan tradisonal Karangantu meminta Satuan Polisi Air (Satpolair) mengusir nelayan asal Lampung yang dinilai melanggar kesepakatan untuk tidak beroperasi di wilayah Karangantu. Hal ini diungkapkan Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HSNI) Kota Serang Dindin Syamsudin, kepada wartawan melalui telpon seluler, Kamis (7/5/2015).

“Kan perjanjian awal pada Januari lalu operasionalnya hanya di Pulau Dua sampai Johor. Jika keinginan kami tidak direspons Satpolair, maka kami akan melakukan demonstrasi di sana (Kantor Satpolair di Karangantu-red),” kata Dindin.

Dikatakan Dindin, pihaknya sudah melakukan audiensi dengan Satpolair supaya bertindak tegas untuk mengusir para nelayan dari Lampung yang menangkap ikan di perairan Karangantu menggunakan alat tangkap sondong, sehingga membuat nelayan Karangantu kesulitan menangkap ikan. “Mereka tetap saja menangkap ikan dengan alat itu (Sondong-red) yang bisa menangkap ikan-ikan kecil, ditambah lagi mengambil ikannya sampai pinggir, sampai sekitar kedalaman 1-3 meter kedalaman pantai,” kata Didin.

Didin menjelaskan, sebelumnya sesuai imbauan dari pemkot sudah ada kesepakatan, para nelayan tidak diperbolehkan menangkap ikan dengan menggunakan alat sondong, karena bisa merusak ekosistem laut. Dan dengan nelayan Lampung juga sudah membuat kesepakatan tidak diizinkan beroperasi di Karangantu.

Lebih lanjut, Didin mengatakan, pada musim barat, ada nelayan Karangantu yang beroperasi menangkap ikan ke Lampung dan ditahan oleh nelayan Lampung. Sehingga terjadi kesepakatan lagi di Lampung, yang membolehkan nelayan Karangantu menangkap ikan di Lampung, asalkan nelayan Lampung dibolehkan beroperasi ke Karangantu.

“Setelah musim barat, nelayan Karangantu pulang, dan sekarang banyak nelayan Lampung yang beroperasi ke Karangantu. Ternyata kesepakatan itu dimanfaatkan dan jumlah nelayan yang datang ke kita juga di luar dugaan ada 10 lebih,” kata Didin. (Fauzan Dardiri)

BAGIKAN