Pertemuan Ketua DPR Setya Novanto dan Wakil Ketua Fadli Zon dengan salah seorang calon presiden AS, Donald Trump di New York, AS, masih berbuntut panjang.

Kecaman demi kecaman membanjiri lini massa. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah curah pikiran dari seorang imam masjid di Islamic Center of New York. Amerika Serikat, Imam Shamsi Ali (Syamsi Ali).

“Saya sayangkan Ketua DPR bertemu dengan Donald Trump, apalagi dalam acara kampanyenya,” tulisnya.

Syamsi yang juga direktur Jamaica Muslim Center (sebuah yayasan dan masjid di kawasan timur New York, Amerika Serikat, yang dikelola komunitas muslim asal Asia Selatan) ini punya empat alasan utama mengapa dia menyayangkan pertemuan Novanto Cs dengan DT seperti dilansir dari jpnn.com, Minggu (6/9/2015).

Pertama, Syamsi menilai, sangat tidak etis karena posisinya (Novanto) sebagai ketua DPR. “Ketua DPR mewakili negara. Dan negara tidak etis mendukung salah satu calon, apalagi menghadiri acara kampanye,” sebutnya.

Kedua, Syamsi memandang ketua DPR diterima tidak lebih dari 3 menit unik sekadar memperlihatkan muka di depan panggung, adalah merendahkan martabat bangsa dan negara.

“Ketua DPR kita diterima tidak lebih dari 3 menit. Untuk sekadar tersenyum di depan publik Amerika pendukung Donald Trump,” sesal Syamsi.

Ketiga, tidak adanya jalan lain untuk mengatakan bahwa rombongan DPR sedang ke luar negeri untuk sebuah perjalanan dinas. “Terus terang, saat ini ada banyak anggota DPR ke ke AS justeru di saat Congress sedang reses (liburan). Mereka lebih banyak menghabiskan waktu jalan-jalan dan belanja,” kata Syamsi.

Keempat, Syamsi menyoal kurang hati-hatinya Novanto Cs memilih momen untuk tampil di muka umum.

“Donald Trump dikenal rasis dan anti imigran, termasuk anti Muslim. Harusnya seorang ketua DPR harus berhati-hati. Jangan sampai pertemuan itu menjadi pembenaran sikap dia yang rasis,” kata Syamsi.

Sosok yang aktif dalam kegiatan dakwah Islam dan komunikasi antaragama di Amerika Serikat ini terkesan sedih, karena di saat bangsanya menghadapi kesulitan ekonomi dengan jatuhnya harga rupiah, para pejabat negaranya malah kurang sensitif.

“Memang anggaran itu ada untuk dipakai jalan. Tapi minimal ada rasa solidaritas untuk tidak memakai anggaran pada hal-hal yang tidak penting di saat rakyat menggeliat dalam kesulitan,” pungkas Syamsi. (adk/jpnn)