PALU – Polda Sulteng merilis sejumlah foto dan video yang berhasil ditemukan dari ponsel milik Daeng Koro, terduga teroris yang tewas saat kontak senjata dengan aparat. Salah satu foto menunjukkan Daeng Koro bersama istri dan tiga anaknya yang masih kecil memegang senjata api (senpi).

Kapolda Sulteng Brigjen Idham Azis yang didampingi Wakadensus 88 Antiteror Mabes Polri Kombes Martinus Hukum dan Wakapolda Sulteng Kombes Gde Sugianyar Dwi Putra beserta pejabat utama polda lainnya memperlihatkan beberapa foto pribadi yang berhasil didapat dari ponsel milik Daeng Koro. Mulai Daeng Koro berlatih bela diri hingga foto memegang senjata jenis panah.

Yang paling menyita perhatian wartawan adalah foto Daeng Koro bersama keluarganya berpose menggunakan senpi laras panjang. Istri Daeng Koro tampak memegang senjata M16. Begitu pun kedua putra dan putrinya yang diperkirakan berumur tidak lebih dari sepuluh tahun itu.

Sementara anak bungsunya memegang senjata sejenis pistol. “Foto-foto ini yang kami dapat dari handphone pelaku setelah kontak tembak,” kata Idham Azis di Rupatama Mapolda Sulteng kemarin (8/4).

Istri Daeng Koro yang sebelumnya sempat mengunjungi RS Bhayangkara untuk memastikan jenazah pecatan TNI itu rencananya juga dipanggil untuk dimintai keterangan terkait foto tersebut. Wakadensus menyampaikan, jika memang benar mengetahui keberadaan senjata-senjata tersebut disimpan, tidak tertutup kemungkinan istri Daeng Koro dijadikan tersangka. “Sangat mungkin nanti jadi tersangka. Jika memang kita bisa buktikan dia terlibat,” tegas Martinus.

Idham menambahkan, rekam jejak aksi terorisme Daeng Koro tidak hanya dikenal di Sulteng. Setelah mengikuti pelatihan militer di Filipina pada 2010 hingga 2012, pria dengan nama asli Sabar Subagio tersebut turut terlibat dalam kasus pengeboman pos polantas di Solo pada malam takbiran 2012. Daeng Koro lebih berperan daripada Santoso dalam kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang berbasis di Poso. “Dia komandannya,” sebut Idham. (agg/end/jpnn)