SERANG – Tradisi rakyat Banten sangatlah menarik. Misalnya saja tradisi bedolan Pamarayan. Bedolan ini dimanfaatkan sebagai pemeliharaan dam dan aliran kanal di Pamarayan, Kabupaten Serang.

Setahun sekali bendungan yang saat ini terletak di Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang ini diperbaiki. “Bedolan itu berarti mengeringkan saluran air untuk pemeliharaan. Mungkin saja ada semen yang retak, ada pasangan batu yang keropos,” Kata Ketua Yayasan Bhakti Banten Maftuh Ali saat dikonfirmasi lewat telepon, Rabu (11/10).

Konon, kata dia, bendungan ini sebulan penuh dibedol airnya. Mulai dari dam sampai ke kanal-kanal puluhan kilo meter dilakukan pemeliharaan supaya bisa difungsikan keadaannya.

“Dibedol airnya, supaya ada kesempatan pemeliharaan bangunan bendungan, alirannya, kanal dan sarana prasarana yang sub tersier dari dam itu,” tuturnya.

Hal menarik dari tradisi bedolan pamarayan ini, masyarakat gembira dan antusias, rupanya akan banyak ikan yang mabuk akibat ombak dan turbulensi yang kuat. Berduyun-duyun, rakyat mengambil ikan-ikan itu sebagai bentuk pesta rakyat.

Penulis buku Penelusuran Naskah dan Arsip Bangunan Cagar Budaya Banten ini mengatakan sejarah bendungan Pamarayan ia tulis di bab enam. Singkat Maftuh menceritakan, dulu sekali, Banten dari sisi hasil pertanian tidak efektif dan kurang bagus. Apalagi sejak terjadi kemarau panjang dan kelaparan yang ditambah dengan peristiwa geger Cilegon, memperparah kehidupan rakyat Banten. Kemudian (rakyat-red) menekan pemerintah kolonial Belanda untuk segera mewujudkan politik etis. Diantaranya, irigasi edukasi dan transmigrasi.

“Irigasi itu dibuat bendungan yang bisa mengairi sawah. Tadinya digarap setahun sekali, terutama di wilayah sekitar sungai ciujung digarap tiga kali setahun setelah dibangun dam,” ucapnya.

Dalam rapat parlemen diputuskan di kementrian pertanian dan disetujui oleh parlemen, sehingga dimulailah pembangunan dam Pamarayan tahun 1905.

Dikatakan dosen UIN Banten ini, pembangunan dimulai setelah pembuatan jalan rel kereta api dari Rangkasbitung sampai Anyer Lor (Merak-red) itu rampung.

“Cara mengambil batu dan material lainnya dengan kereta api. Batu didatangkan dari bukit cerlang di Anyer Lor,” ungkapnya.

Batu itu diangkut puluhan ribu ton ke Pamarayan. Jalur ke Rangkasbitung ke Anyer Lor sangat jauh. Kemudian, pemerintah kolonial Belanda membuat sub rel dari stasiun Catang ke lokasi Bendungan Pamarayan.

Pada 1925 dinyatakan dam utama selesai, mulai dibuat saluran irigasi induk kiri dan kanan. Pembangunan bendungan itu telah menghabiskan dana 5 juta bolden lebih dan 200.000 tenaga kerja.

“Kurun 20 tahun itu, kanal kiri bendungan Pamarayan Lama sampai ke Kramatwatu Bojonegara dan daerah Ciruas,” ucapnya lagi.

Saluran induk kanan jaraknya sampai menembus Tirtyasa dan seterusnya. Akhirnya, pada waktu itu sekitar 27.000 hektare sawah dapat ditanami sepanjang tahun, otomatis meningkatkan produktifitas padi.

Bendungan Pamarayan ini, bahkan dianggap sebagai dam terbesar di indonesia, sebelum waduk saguling dibangun.
“Pemerintah Gubernur Belanda pada waktu itu datang ke bendungan. Soekarno pada 1951 juga pernah mengunjungi Pamarayan,” tukasnya. (Anton Sutompul/antonsutompul1504@gmail.com).