Istirahatlah Kata-Kata, Film Pengungkap Fakta

0
8973
Pengambilan gambar Istirahatlah Kata-Kata.

PENGORBANAN bangsa Indonesia demi membentuk kesatuan negara yang kukuh emang nggak sedikit. Perjuangan menyatukan pikiran masyarakat dari Sabang sampai Merauke nggak pendek, apalagi mudah. Sayang, beberapa bagian sejarah Indonesia justru kurang terekspos mendalam pada buku pelajaran sekolah.

Menyadarinya, sutradara Yosep Anggi Noen dan produser Yulia Evina Bhara mengusung film Istirahatlah Kata-Kata. Menceritakan momen berakhirnya Orde Baru lewat keseharian penyair Wiji Thukul, film tersebut mampu menembus festival bertaraf internasional. Nggak heran, Istirahatlah Kata-Kata menuai banyak pujian.

Film itu dikemas melalui kacamata Wiji Thukul, sastrawan dan aktivis asal Solo. Sang sutradara, Anggi, berusaha membangun gambaran ketakutan masyarakat pada masa itu, khususnya keluarga hingga teman yang dikenal para aktivis. Setelah insiden Kudatuli (kerusuhan pada 27 Juli 1996), Wiji Thukul dinyatakan sebagai buron. Dia yang menyayangi keluarganya terpaksa lari ke Pontianak. Masa krusial Wiji Thukul pun dimulai. Jauh dari kawan dan keluarga membuat Wiji sadar bahwa langkahnya nggak bisa berhenti di sana.

Bagi Anggi dan Yulia, mengangkat kembali cerita hilangnya beberapa aktivis saat perjuangan mengakhiri Orde Baru bukanlah perkara mudah. Namun, mereka ingin masyarakat tetap ingat bahwa demokrasi yang bisa dihirup hari ini adalah perjuangan sulit saat itu. ’’Bahkan, Wiji Thukul dan 12 kawannya hilang dan belum kembali hingga hari ini,’’ tegas Yulia.

Karena itu, puisi-puisi Wiji Thukul menjadi bahan utama buat meracik film tersebut. Karya yang mewakili pandangan Wiji yang lugas dan jujur itulah yang ditafsirkan Anggi dkk untuk menggarap film tersebut secara mendalam. Lewat diskusi panjang, Anggi mengambil benang merah puisi Wiji Thukul dan meramunya menjadi dialog yang jauh dari kesan politik, melainkan cerita pergulatan hati sang sastrawan.

’’Wiji menyajikan kesehariannya dalam puisi yang lugas sekaligus lugu. Hal itu sangat efektif mencatat situasi saat itu serta mengorek sistem politik dan kekuasaan yang kurang sesuai pada masa itu,’’ ujar Anggi.

Bukan hanya itu, sanjungan Anggi dan tim terhadap puisi Wiji nggak hanya dibentuk pada dialog dan soundtrack film, tapi juga penokohan. Para pemeran Istirahatlah Kata-Kata di-treatment agar mengeksplorasi sendiri karakter yang mereka perankan. Misalnya, terpilihnya Gunawan Maryanto sebagai sosok Wiji Thukul.

’’Dia dipilih karena juga dikenal sebagai seorang penyair dan sastrawan yang memercayai kata-kata layaknya Wiji Thukul,’’ ucap Yulia, produser yang juga pernah menggarap film On the Origin of Fear. Selain itu, akting Marissa Anita sebagai Sipon, istri Wiji Thukul, yang tertekan dengan lingkungannya pada masa itu nggak kalah cemerlang.

Dipersiapkan sebagai film festival dengan materi yang cukup berat, film tersebut telah lama diimpikan Anggi dan Yulia agar mampu menembus layar bioskop. Perjuangan secara mandiri untuk bisa masuk di layar kaca mainstream dimulai dengan menggaet banyak rumah produksi dan mencuri kesempatan tampil di berbagai festival film. Cara itu menjadi langkah kuat agar film tersebut mendapat respons positif masyarakat. Termasuk mencapai tujuan utama mereka, yakni membuka wawasan generasi sekarang tentang situasi pada zaman Orde Baru.

Mereka percaya, menambah keragaman film di layar bioskop Indonesia mampu mengubah pola pikir generasi sekarang yang hanya terlihat hedon. ’’Terbukti, saat Busan International Film Festival, ada sekitar 13 anak muda dari Indonesia yang mau menonton dan mengapresiasi film itu. Begitu pula di Jogja-NETPAC Asian Film Festival yang sebagian besar penontonnya adalah anak muda,’’ ungkap Anggi bangga.

Film Komunitas Pengungkap Identitas

Perkembangan film Tanah Air cukup menggembirakan di beberapa tahun terakhir ini. Setelah sempat mengalami mati suri, film Indonesia kini kembali mengalami kejayaan di dalam negeri. Secara kuantitas jumlah film Indonesia yang diproduksi dari tahun ke tahun cukup signifikan kenaikannya. Buktinya kita bisa lihat deretan film yang sedang tayang dan yang akan muncul di bioskop-bioskop. Dan yang lebih menggembirakannya lagi, masyarakat Indonesia pun semakin menyukai film-film buatan dalam negeri.

Begitu juga keberadaan film indie dan film komunitas. Jika skala nasional film berjudul Istirahatlah Kata-Kata menjadi penanda kesuksesan mulai diterimanya film indie, di Banten, pada 18-20 Januari ini ada ajang keren tempat diputarnya film produksi anak muda Banten.

Riung Film #1. Ya, acara yang digagas Covie (Komunitas Movie), Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) IAIN SMHB dan Lab Bantenologi akan memutarkan film-film produksi komunitas film di Banten. Bertempat di Aula Sadzeli Hasan IAIN SMH Banten lantai 2, acara yang bekerja sama dengan Eagle Institute Indonesia ini juga menghadirkan sosialisasi Eagle Awards Documentaru Competition, workshop film, diskusi film, dan menonton film dokumenter dan fiksi.

“Kita memang sengaja bekerja sama dengan Eagle Institute karena kita tahu ini salah satu lembaga yang bergengsi dalam mengadakan even film dokumenter. Dan kita anak muda Banten sadar di Banten ini banyak film karya anak-anak muda tapi kurang di–up di kancah nasional. Nah makanya kita mengadakan acara ini dan bekerja sama dengan Eagle Institute agar menstimulus anak-anak muda yang ternyata banyak loh karya anak muda Banten yang nggak kalah keren. Buktikan di hari Kamis nanti dalam workshop film,” jelas Uha Azka Nasabi, Ketua Pelaksana Riung Film #1 saat mendatangi ruang redaksi Zetizen Radar Banten, Senin (17/1).

Pada acara sosialisasi nanti, lanjut Uha, Eagle akan memberitahu cara mengisi proposal mengikuti kompetisi film di lembaga tersebut. Kompetisi dilaksanakan Mei nanti. “Untuk workshop ini kita akan membahas cara membuat film. Pematerinya itu ada Darwin Mahesa dari Kremov Picture dan Cindy dari Jakarta. Sedangkan pada acara diskusi kita akan membahas isi film,” kata Uha.

Ia dan timnya berharap, acara yang didukung Zetizen Radar Banten sebagai media partner ini akan menjadi acara tahunan dengan rangkaian berbeda setiap tahunnya. “Semoga nantinya melalui acara ini bisa memotivasi anak muda Banten untuk bisa lebih berkarya melalui film dan tahu bahwa film itu asik mudah untuk dibuat,” tutup Uha.

Nggak Kalah Menarik

Film indie atau film komunitas boleh jadi disebut antimainstream. Di tengah-tengah keseragaman tema, film indie bisa menjadi tontonan alternatif. Dengan kemajuan teknologi informasi seperti sekarang, perkembangan film indie mengalami kemajuan signifikan dalam hal kuantitas.

Perkembangan tersebut juga didukung teknologi yang semakin murah dan mudah untuk didapat. Kini semua orang dapat dengan mudah mengakses video. Program editing atau penyuntingan juga banyak yang bisa didapatkian secara cuma-cuma tanpa harus membayar.

Selain faktor perkembangan teknologi, ada faktor tertentu yang hanya dmiliki film indie sehingga perkembangan film indie meningkat begitu pesat. Nih pendapat Gen Z Banten tentang faktor yang bikin film indie makin menjamur.

“Jalan cerita film indie itu benar-benar bebas, nggak ada batasan. Plot ceritanya juga biasanya di luar dugaan dan beda dari film komersil lain, karena film indie itu bukan ditargetkan untuk pasar tapi benar-benar murni untuk berkarya,” kata Maya Kencana, Gen Z Banten alumni SMAN 2 Kota Tangerang ini.

Berbeda dengan pendapat Gen Z satu ini. “Saya pernah nonton film indie, nah menurut saya adegan di film lebih bebas dan natural nggak kaku dibuat-buat. Kan kalau film komersil adegan nya itu sudah hasil saringan ketat dan bermacam-macam kaya lembaga sensor,” tutur Anis Aliya Azrifatin, Gen Z Banten yang duduk dibangku MAN 2 Tangerang ini.

Mau coba nonton film indie? Kalian bisa coba menonton Istirahatlah Kata-Kata, salah satu film indie yang akan tayang di layar lebar Indonesia. Atau bisa mendatangi Riung Film #1? (hellen-zetizen/pew/zee)