Jaga Pasokan Saat Bulan Puasa, Pemerintah Impor Daging dan Bawang

Pedagang menata daging sapi yang dijual di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan (19/5). Pemprov DKI Jakarta mengimpor daging sapi beku hingga 500 ton. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

PEMERINTAH berusaha untuk mencukupi stok dan menjaga pangan selama bulan Ramadan. Salah satunya, dengan jalan membuka kran impor untuk kebutuhan pokok. Tiga jenis kebutuhan yang tercatat harus impor dari luar negeri. Yakni, daging sapi, daging kerbau, dan bawang putih.

Untuk daging sapi, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengincar tambahan stok melalui tiga jenis. Yaitu, sapi hidup, daging sapi potong, dan daging sapi beku. Sedangkan daging kerbau, hanya daging potong. Sedangkan bawang putih, sudah jadi agenda rutin tak hanya Ramadan.

“Bawang putih, daging sapi, dan daging kerbau harus impor agar stok di dalam negeri tercukupi,” tegas Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan kepada JawaPos.com, Jumat (19/5).

Oke menyebutkan, impor sapi hidup dan daging sapi sudah berjalan sejak awal tahun. Jumlahnya impor sapi hidup sejak awal tahun mencapai 150 ribu hingga 157 ribu ekor. Sedangkan untuk daging sapi beku jumlahnya sebanyak 86 ribu ton.

Untuk Ramadan saja, pemerintah mengimpor daging kerbau sebanyak 36 ribu ton. Jumlah daging sapi potong impor selama Ramadan jumlahnya lebih sedikit daripada daging kerbau.

“Impor daging kerbau dari India, kalau impor daging sapi dari Australia dan Meksiko,” ungkap Oke.

Oke menambahkan, untuk bawang putih selama ini Indonesia memang mengimpor dari Tiongkok. Selama Ramadan, jumlahnya akan ditambah supaya stok kebutuhan di dalam negeri terjaga.

“Jumlahnya bebas tidak ada angkanya, sesuai kebutuhan dan permintaan,” jelasnya.

Sedangkan untuk bawang merah dan cabai, kebutuhan di dalam negeri tercukupi, tak perlu impor. Begitu pula dengan beras, Indonesia kini sudah swasembada beras. “Gula juga cukup stoknya. Ada 46 ribu ton di dalam negeri,” tandas Oke. (cr1/JPG)