Jalan Terakhir Maman dan Mimin

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

PERNIKAHAN Maman (26) dan Mimin (22), keduanya nama samaran, berakhir begitu saja meski baru saja menikah. Sekira sebulan paska menikah, beragam konflik antara Maman dan Mimin pun akhirnya berujung pada perceraian. Entah konflik macam apa yang menyebabkan hubungan rumah tangga keduanya kandas. Usut punya usut, konon si Mimin enggak tahan hidup serba kekurangan.

Sedikit cerita, pernikahan Maman dan Mimin terjadi karena restu dari seorang kiyai. Konon, Maman yang merupakan santri di sebuah pondok salafi di sebuah desa di Kabupaten Serang ingin menikah karena merasa umurnya sudah cukup. Maman pun akhirnya meminta kepada kiyainya untuk memilihkan jodoh yang layak untuknya.

Maman akhirnya dipertemukan dan dijodohkan dengan Mimin yang merupakan keponakan dari sang Kiyai. Singkat cerita, keduanya pun sepakat dan bersedia melangsungkan pernikahan. Usai menikah, keduanyapun menjalin cinta sebagaimana sepasang suami-istri. Hari-demi hari pun berlalu, minggu demi minggu pun berganti. Mimin tak kuasa menjalani hari-hari dengan serba kekurangan dan keprihatinan.

Maklum saja, Maman adalah seorang santri salafi yang kini mengajar ngaji di kampungnya. Penghasilnnya pun terbilang sangat kurang. Untuk menambah penghasilan, Maman pun berkerja membuat batu bata di tanah samping rumahnya. Mungkin karena sang suami tidak bisa memenuhi segala kebutuhannya, Mimin akhirnya memilih meninggalkan si Maman dan balik ke rumah orangtuanya.

“Ya mau bagaimana lagi. Penghasilan guru ngaji kampung, paling berapa sih? Jangankan buat kebutuhan lain, buat makan aja susah,” curhat Mimin.

Mimin sebenarnya masih bisa bersabar, namun kebutuhan perut memang tak dapat dielakkan. Mimin mulai menatap masa depannya yang terlihat suram. Maka ia memutuskan pulang ke rumah orangtuanya.

Beberapa hari setelah Mimin pergi dari rumah, Maman mendatangi Mimin di rumah mertuanya. Niatnya sih untuk kembali memperbaiki rumah tangganya dengan Mimin agar kembali utuh.

“Pak, saya ingin bertemu Mimin. Saya ingin memperbaiki rumah tangga kami berdua,” begitu kira-kira kalimat Maman kepada ayah Mimin, sebut saja Kadir.

Namun sayang seribu sayang seribu sayang, Mimin sudah kadung tidak ingin kembali ke rumah si Maman. Orangtua Mimin pun mendukung habis-habisan jika Mimin ingin berpisah dengan Maman. “Waduh, nggak bisa! Kamu sudah mengecewakan anak saya. Mimin sudah tidak mau lagi bersuami dengan kamu,” jawab Kadir membela Mimin.

Penyelesaian masalah melalui jalur kekeluargaan pun dilakukan pihak keluarga Maman. Tetapi hasilnya tetap sama, Mimin enggan kembali. Maman pun akhirnya merelakan istrinya pergi dan bercerai dengan Mimin meski baru sebulan menikah. “Susah kalau memang bukan wanita yang solehah mah, mau diapain juga aleman. Jadi ngapain harus dipertahankan. Mungkin dia bukan jodoh saya. Nanti juga kalau udah jodoh akan ketemu wanita yang lebih baik lagi,” kata Maman menghibur diri.

Hmm yang sabar ya Man, bisa jadi jodoh dengan Mimin cuma seumur jagung tapi siapa tahu di depan ada yang terbaik. Seseorang yang bisa menerima profesi guru ngaji untuk menjadi suami yang menuntun ke surga kelak. (Haris-Zetizen/Radar Banten)

BAGIKAN