JAKARTA – Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah mengingatkan Presiden Joko Widodo agar berhati-hati dalam memilih menteri baru, kalau perombakan (reshuffle) Kabinet Kerja jadi dilakukan dalam waktu dekat.

Ini disampaikan Fahri karena dia tidak ingin lagi Presiden Jokowi mendapat pekerjaan baru karena ulah para menterinya yang tak kunjung bisa menyesuaikan diri dalam kabinet.

“Sangat penting presiden kalaupun toh mau melakukan reshuffle, harus betul-betul (pertimbangannya) matang, jangan hanya pertimbangannya itu sesaat emosional, sekedar pencitraan tapi betul-betul siapa yang bisa kerja,” kata Fahri saat dihubungi di sela-sela Kunjungan Kerja ke Polewali Mandar, Sulawesi Selatan, Rabu (6/5).

Reshuffle menurut politikus PKS ini harus dinilai secara objektif karena menteri adalah pejabat yang diangkat dan diberhentikan berdasarkan prerogatif presiden. Tugasnya juga membantu Jokowi di bidang masing-masing.

Dari penilaian Fahri, banyak menteri yang karena masih baru sehingga sulit menyesuaikan diri dengan kerja-kerja DPR sebagai mitra pemerintah.

“Menteri-menteri seperti itu harus dievalusasi. Pandangan kami juga sebagai mayoritas di parlemen menganggap sekarang waktunya untuk bekerja, masa bersaing sudah selesai. Sekarang kita bantu presiden,” ujarnya.

Itu sebabnya Fahri tak ingin kalau menteri-menteri Jokowi tidak membantu kerja presiden, atau malah menimbulkan pekerjaan baru dan masalah bagi Jokowi. Dia juga mengingatkan Jokowi untuk tidak mereduksi menteri menjadi profesionalitas murni. Sebab, seorang menteri juga harus bisa berpolitik.

“Menteri itu harus bisa berpolitik. Dia bisa menyadari powernya yang besar untuk kemudian melakukan komunikasi yang edektif dengan masyarakat dan politisi. Jadi jangan dia kemudian cuek menganggap DPR tidak penting atau melecehkan dpr, itu akan merusak kerja pemerintahan secara umum,” tandasnya. (fat/jpnn)

BAGIKAN