Kejati Geledah RSUD Banten

Dugaan Korupsi Pengadaan Genset

Penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten melakukan penggeledahan di ruangan direksi RSUD Banten, Kecamatan Cipocokjaya, Kota Serang, Rabu (6/12).

SERANG – Penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten menggeledah kantor direksi RSUD Banten, Rabu (6/12). Penggeledahan terkait dengan pengusutan dugaan korupsi pengadaan genset tahun 2015 senilai Rp 2,2 miliar.

Informasi yang dihimpun Radar Banten, tim penyidik mendatangi RSUD Banten sekira pukul 10.30 WIB. Empat orang penyidik Kejati Banten langsung mendatangi kantor direksi RSUD Banten di lantai tiga gedung RSUD Banten. Satu jam lebih melakukan penggeledahan atau sekira pukul 12.00 WIB tim penyidik keluar dari ruangan direksi.

Tim penyidik yang dipimpin Kepala Seksi Penyidikan (Kasidik) Kejati Banten Wahyudi Eko keluar menuju masjid yang berada di lokasi untuk menunaikan salat Zuhur. Seusai salat, penyidik sempat memeriksa keberadaan genset di sisi kiri gedung RSUD Banten.
Usai salat, penyidik kembali ke lantai tiga melanjutkan penggeledahan. Penggeledahan baru rampung pukul 14.15 WIB. Ada beberapa berkas yang disita penyidik terkait lelang pengadaan genset. “Dokumen-dokumen yang kita minta terkait lelang pengadaan genset tahun 2015. Dokumen itu untuk melengkapi barang bukti penyidikan perkara ini,” kata Kepala Seksi Penerangan Hukum (Penkum) Kejati Banten Holil Hadi.

Didampingi Wahyudi Eko, Holil mengatakan, lelang pengadaan genset dimenangkan oleh CV Megah Teknik. Diduga terjadi kemahalan harga atau markup dalam pengadaan genset. Sesuai hasil audit Inspektorat Provinsi Banten terdapat kerugian negara sebesar Rp 500 juta. “Hasil itu bisa digunakan sebagai pembanding. Sekarang dalam proses permintaan audit ke BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan-red),” jelas Holil.

Setelah memiliki cukup bukti, pada November 2017, penyelidikan perkara ini dinaikkan ke tahap penyidikan. Sedikitnya sudah ada 15 orang dari RSUD Banten dan pemenang lelang telah diperiksa sebagai saksi. Salah satunya Direktur RSUD Banten Dwi Hesti Hendarti. “Beberapa orang saksi masih diperiksa. Jika dibutuhkan, kita akan panggil lagi untuk diperiksa,” kata Holil.

Diakui Holil, penyidikan dugaan korupsi ini belum mengarah pada spesifikasi genset. Secara visual keadaan genset dalam keadaan baik. “Tetapi, jika penyidik membutuhkan tentu akan menggandeng ahli untuk melihat bagaimana spesifikasinya,” jelas Holil.

Selain menggeledah kantor RSUD Banten, secara bersamaan penggeledahan juga dilakukan di kantor CV Megah Teknik di Jalan Palima, Sindangsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang. Beberapa dokumen terkait lelang disita penyidik. “Penggeledahan dilakukan secara bersamaan. Karena telah dibagi dua tim,” kata Holil.

Kegiatan penggeledahan terlihat tidak memengaruhi aktivitas pelayanan di RSUD Banten. Pelayanan pasien terlihat normal. “Kalau ada yang belum diamankan tentu akan dilakukan lagi,” jelas Holil.

Dihubungi terpisah melalui sambungan telepon seluler, Plt Direktur RSUD Banten Susi Badriyanti tidak menjawab panggilan Radar Banten. Sementara itu, Wakil Direktur Pelayanan RSUD Banten dr Drajat Ahmad Saputra mengaku tidak mengetahui penggeledahan kemarin.

Ia membenarkan bila ada tim dari Kejati datang ke kantornya. Namun, saat ada petugas Kejati, ia tidak berada di kantor. “Iya, tadi (kemarin-red) ada dari Kejati. Setahu saya mengenai pendampingan APBD. Itu biasa. Kalau soal penggeledahan saya tidak tahu,” pungkasnya. (Merwanda-Fauzan D/RBG)

BAGIKAN