NGANJUK-Kekeringan melebar ke wilayah selatan. Sejak dua minggu terakhir, warga Desa Mojoduwur dan Desa Suru, Kecamatan Ngetos harus antre empat hari untuk mendapat air bersih. Sebab, debit air dari sumber yang masuk ke tandon-tandon warga mengecil.
Seperti dikatakan oleh Murlan, 48. Pria asal Dusun Jatirejo, Desa Mojoduwur ini mengatakan, air di tandon baru mengalir saat dini hari. “Itu pun kami harus bergiliran dengan dusun lain. Jadi menunggu dulu,” kata Murlan.

Untuk diketahui, total ada enam dusun di Desa Mojoduwur. Selain Dusun Jatirejo, ada Dusun Gambyok, Sanan, Nitis, Kedungbengko dan Jegles. Warga enam dusun tersebut harus bergiliran menunggu air bersih yang sejak dua minggu terakhir hanya bisa mengalir pada dini hari.
Saat giliran tiba, warga juga tidak bisa mengambil air dalam jumlah banyak. Masing-masing kepala keluarga (KK) hanya dijatah dua jeriken atau ember yang kapasitas maksimalnya 40 liter.

Artinya, setiap hari warga hanya bisa menggunakan 10 liter air bersih. Sebab, mereka baru bisa kembali mengambil air di tandon empat hari kemudian. “Air hanya untuk minum dan memasak karena jumlahnya memang terbatas,” lanjut Murlan.
Bagaimana dengan air untuk pakan ternak? Ditanya demikian, Murlan menyebut warga harus mencari air ke resapan-resapan di lereng gunung. Jarak resapan air itu sekitar satu kilometer dari Dusun Jatirejo.
Kesulitan air yang menimpa Desa Mojoduwur menurut Murlan hampir terjadi setiap tahun. Karenanya, dia meminta agar pemkab membangunkan sumur bor. Sehingga, mereka tidak harus menggantungkan kebutuhkan air dari satu sumber saja.
Lebih jauh Murlan mengatakan, di desanya ada satu sumur bor. Tetapi, saat ini sudah tidak berfungsi karena rusak. “Hanya berfungsi satu tahun. Dulu pakai diesel, sekarang diganti listrik tapi tetap tidak berfungsi,” terang Murlan tentang sumur yang dibangun 2014 lalu itu.
Tidak hanya sumur bor yang rusak, jaringan pipa yang terhubung ke tandon juga mulai rusak. Padahal, jika jaringan itu difungsikan menurut Murlan warga bisa mendapatkan air bersih dengan lebih mudah.
Terpisah, Maryam, 47, warga Dusun Gambyok, Desa Mojoduwur, Kecamatan Ngetos mengatakan, dirinya tidak mandi selama seminggu terakhir. “Tidak mandi nggak masalah. Yang penting bisa minum, Mas,” kata Maryam.
Berbeda dengan dusun-dusun lainnya, Maryam menyebut Dusun Gambyok selalu mendapat giliran air terakhir. Karenanya, warga di Dusun Gambyok sering tidak kebagian air bersih.
Makanya, warga memilih tidak mandi karena kesulitan mencari air. Mereka memilih mendahulukan kebutuhan air untuk minum dan memasak. “Kami harap ada solusi agar tidak ada kekeringan lagi,” pintanya.
Terpisah, Kabag Humas Pemkab Nganjuk, Agus Irianto mengatakan pihaknya akan melakukan pengecekan ke lokasi. Termasuk melakukan pendataan kebutuhan air. “Segera kami koordinasi dengan instansi terkait, BPBD, desa dan kecamatan untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Desa Mojoduwur,” katanya.

(rk/rq/die/JPR)