CILEGON – Kasus pembunuhan Ferdi Haryadi (21), remaja autis, oleh orangtua kandungnya, Masriya bin Darfi (50), memasuki babak baru. Hal itu diketahui setelah polisi mendapatkan keterangan dari Uus (48), pemilik angkot, dan Ikhsan (41), sopir angkot, yang membawa korban menuju jembatan di Desa Teneng, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, lokasi korban dibunuh dengan cara diceburkan.

Kanit IV Satreskrim Polres Cilegon Ipda Asep Iwan Kurniawan mengatakan, angkot trayek Cilegon – Merak yang diamankan pihaknya pada Minggu (11/10/2015) malam lalu sengaja disewa oleh Masriya Rp250 ribu untuk mengakhiri hidup Ferdi. “Uus ini adalah teman Masriya. Sebelum korban dibunuh, sore harinya Masriya menemui Uus di JLS (Jalan Lingkar Selatan) untuk menyater (sewa) angkotnya dengan alasan untuk mengantar tetangganya berobat ke Cinangka. Nah karena, penglihatan Uus ini tidak jelas kalau menyetir malam hari, maka ia pun mengajak temannya Ikhsan untuk nyopir,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (13/10/2015) sore.

Keterlibatan mobil angkot dengan nomor polisi A 1990 UP, kata dia, belakangan diketahui berdasarkan keterangan dari Firman Hariyadi (17), adik korban yang saat ini masih ditahan dengan status tersangka di Polres Cilegon. “Dari keterangan Uus dan Ikhsan, mereka mengaku bertemu Masriya di perempatan Larangan JLS. Lalu mereka berdua membawa korban dan adiknya (Firman) menuju Cinangka. Sedangkan Masriya menggunakan motor sendiri dengan membawa karung yang berisi paving blok. Malah kepada Uus pada saat itu, Masriya ini juga mengatakan kalau Firman itu tetangganya, bukan anaknya,” katanya.

Ia membeberkan, Uus dan Ikhsan juga tidak mengetahui prosesi Masriya menceburkan anaknya ke sungai, hingga akhirnya ditemukan tewas. Keduanya mengungkapkan, mereka disuruh menunggu diangkot, yang berjarak jauh dari TKP. “Mereka berdua ini tidak mengetahui eksekusinya (Ferdi), karena mereka menunggu di mobil bersama Firman. Hal ini membuktikan, bahwa pada saat itu, pelaku memang sudah merencanakan pembunuhan itu. Uus dan Ikhsan tidak kita tahan,” jelasnya. (Devi Krisna)