Ketua PGRI Kopo Diciduk Karena Potong Tunjangan Guru

SERANG – Potong tunjangan guru di Kecamatan Kopo, Ketua PGRI Kecamatan Kopo berinisial S dan Bendahara UPTD Dindikbud Kecamatan Kopo berinisial M diciduk Tim Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli). Bersama kedua pelaku, polisi mengamankan barang bukti berupa uang sebesar Rp 24.990.000, hasil pemotongan tunjangan.

Wakapolres Serang Kompol Heri Sugeng Priyanto menjelaskan, penangkapan kedua pelaku bermula adanya laporan dari masyarakat terkait adanya potongan penghasilan tambahan para guru seluruh jenjang pendidikan di Kecamatan Kopo oleh kedua pelaku.

Setelah menindaklanjuti laporan tersebut, pada Kamis (9/11), petugas langsung melakukan pengamanan kepada keduanya di kediaman M di Desa Mekarbaru, Kecamatan Kopo, Kabupaten Serang.

“Setelah dilakukan pemeriksaan, inisial M selaku bendahara pembantu di UPT (Dinas) Pendidikan Kecamatan Kopo melakukan pemotongan dana tambahan penghasilan guru pada September dan Oktober 2017 terhadap guru-guru, dengan alasan pembayaran hutang pembangunan gedung PGRI Kopo dan HUT PGRI atas perintah S,” ujar Heri didampingi Kasatreskrim Polres Serang AKP Gogo Galesung dan Kanit Tipikor Iptu Toto Hartono di Mapolres Serang, Senin (13/11).

Dijelaskan Heri, pemotongan tunjangan tersebut dilakukan secara langsung oleh bendahara UPTD Dindikbud Kecamatan Kopo. Besaran potongan bergantung pada golongan guru tersebut.

Berdasarkan data dan barang bukti, menurut Heri, perbuatan yang dilakukan kedua pelaku sudah memenuhi unsur pidana. Karena itu, pihaknya tidak akan menyerahkan kasus tersebut pada Inspektorat Kabupaten Serang, melainkan melanjutkan proses hukum.

“Terhadap dua tersangka ini kita lakukan penahanan, mereka diancam hukuman minimal empat tahun dan maksimal 20 tahun,” kata Heri.

Sementara itu, Kasatreskrim Polres Serang AKP Gogo Galesung menambahkan, pihaknya sudah melakuan pemeriksaan terhadap beberapa guru yang menjadi objek pemotongan oleh M dan S.

“Mereka (guru) keberatan, kalaupun tidak ada keberatan, ini salah. Tidak boleh dipotong di atas oleh ASN dan digunakan untuk hal-hal yang tidak diperlukan,” ujar Gogo.

Dari keterangan guru, tunjangan dicairkan per dua bulan melalui bendahara UPTD Dindikbud Kecamatan Kopo. Adapun uang yang menjadi barang bukti merupakan uang hasil potongan tunjangan untuk September dan Oktober. “Ini pemotongan ketiga kali untuk iuran gedung PGRI, kalau untuk HUT baru satu kali,” katanya.

Dijelaskan Gogo, sementara pihak kepolisian baru mengamankan dua tersangka tersebut. Aparat kepolisian masih melakukan pengembangan atas kasus pungli di tubuh dinas pendidikan tersebut. (Bayu Mulyana/coffeandchococake@gmail.com)

BAGIKAN