Kisah Mbah Tinem yang Berani Melawan Jambret

Tinem, 70, berani menarik tangan pelaku jambret yang hendak membawa kabur perhiasan emas miliknya. Pelaku jambret itupun berhasil dibekuk.

LODITYA FERNANDEZ, Ngawi

SEBUAH rumah tersembunyi di dalam gang di Desa Paron, Ngawi, Jatim. Bangunannya terbuat dari kayu.

Perabotan yang terlihat pun seadanya. Semua serba kayu. Tidak lama, seorang perempuan muncul.

Mengenakan kebaya berkelir abu-abu dan bawahan rok motif bunga warna merah muda. Dia tidak lain Tinem.

’’Maaf berantakan seperti ini,’’ ucap Mbah Nem –sapaan akrabnya- saat ditemui Jawa Pos Radar Ngawi.

Wajah Mbah Nem nampak lelah. Dia baru saja menjalani pemeriksaan lanjutan di Polsek Paron. Sehari sebelumnya Mbah Nem menjadi korban aksi penipuan dan perampasan yang dilakukan oleh Bonadi, warga Desa Nglopang, Kecamatan Parang, Magetan.

Cincin emas 4 gram yang baru ditebus di Toko Emas Nogo, di wilayah Paron hendak dibawa kabur oleh pelaku. ’’Nanti katanya kalau di pengadilan juga dipanggil lagi, ’’ imbuhnya.

Perempuan berusia 70 tahun itu tidak menyangka jika dirinya bakal berurusan dengan polisi. Sebelumnya Mbah Nem mendapatkan uang pengembalian pinjaman dari anaknya sebesar Rp 600 ribu.

Dia berangkat ke pasar membawa uang dan cincin emas seberat 3 gram miliknya. Sesampainya di pasar, dia mampir ke toko emas.

’’Saya cari tukar tambah. Cincin 3 gram itu saya tambahi uang, tukar dengan yang 4 gram. Untuk celengan,’’ bebernya.

Siapa sangka dia sudah menjadi incaran Bonadi. Sesampainya di gang rumahnya, Bonadi datang dan mengaku sebagai pegawai toko emas tempatnya membeli cincin.

Emas miliknya dirampas. Modusnya menyaru sebagai pegawai toko dan mengaku telah terjadi kesalahan dalam transaksi emas yang dilakukannya.

Melihat gerak-gerik Bonadi, Tinem curiga. Dia sontak menarik lengan kaus Bonadi. ’’Waktu itu tidak kepikiran apa-apa. Takut atau khawatir tidak. Pokoknya langsung saya tarik sambil minta emas saya sambil teriak minta tolong,’’ jelasnya.

Tidak lama, Novi Wulandari cucu perempuannya datang membantunya. Disusul dengan sejumlah warga lainya. Tanpa pikir panjang, Bonadi menjadi amukan massa. Suasana berubah gaduh.

Warga berdatangan membawa pentungan, teriakan hendak membakar Bonadi sempat terdengar. Tinem yang kesal berubah welas.

Dia ikut-ikutan menghentikan amukan warga terhadap Bonadi. Satu per satu warga ditarik. Termasuk Supardi, anaknya yang naik pitam. “Sebenarnya jengkel, tapi kasihan juga kalau sampai mati. Jangan sampai jadi masalah lainnya,’’ tuturnya.

Usai kejadian, Bonadi dan Tinem dimintai keterangan oleh petugas. Kronologi dan beberapa hal lainnya dibeber habis-habisan. Perempuan yang punya dua cicit itu baru bisa istirahat sore harinya.

Namun, waktu rehatnya terbuang percuma. Mbah Nem masih saja terbayang-bayang tentang kejadian yang menimpanya.

Baik saat dirinya berjibaku dengan Bonadi hingga bayangan amukan massa yang dilihat dengan kedua matanya sebelumnya. ’’Malam saya sampai tidak bisa tidur. Kepikiran terus,’’ imbuhnya.

Meski begitu, Mbah Nem lega. Bonadi yang diduga kerap melakukan aksi kejahataan berhasil diringkus.

Keberanian ternyata muncul karena perempuan yang biasa bekerja sebagai petani itu sebelumnya juga menjadi korban kejahatan yang hampir sama.

Dia pernah disekap di dalam mobil bersama Rusmin, suaminya. Awalnya, penumpang mobil asing berhenti di depan Rusmin yang jalan pagi. Bertanya arah jalan Desa Soco.

Salah satu yang mengenakan sorban hendak memberikan doa untuknya. Rusmin dan Mbah Nem diminta masuk ke mobil.

“Setelah di alam tidak sadar. Perhiasan kalung dan emas belasan gram sudah tidak ada waktu diturunkan,’’ jelasnya. ***