Kosmetik Abal-abal Bisa Sebabkan Kanker Kulit

PEMAKAIAN berbagai produk kosmetik ilegal atau kosmetik yang tidak terdaftar peredarannya di Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) bisa berdampak pada kesehatan kulit. Yang paling ekstrem, kanker kulit.

Bahaya penggunaan kosmetik abal-abal ini diungkapkan oleh ahli estetika di Klinik Kecantikan London Beauty Centre dr Rifki Andika, Rabu (19/4). “Kanker kulit biasanya terjadi tanpa ada gejala. Orang awam akan sulit mengenalinya,” kata dr Rifki. Dampak penggunaan kosmetik abal-abal pada kesehatan lainnya adalah iritasi atau perih dan peradangan pada kulit.

Saat ini, penggunaan kosmetik khususnya krim ilegal, masih marak di kalangan masyarakat. Menurut dr Rifki, golongan masyarakat pengguna kosmetik abal-abal ini adalah menengah ke bawah.

Jenis kosmetik abal-abal yang paling banyak digemari adalah krim pemutih kulit. Sehingga wajar, kosmetik ilegal jenis ini yang paling banyak beredar di masyarakat. Kehadirannya tak lepas dari keinginan para wanita untuk tampil lebih menarik dengan kulit wajah putih dalam waktu singkat.

Peredaran kosmetik abal-abal juga mudah ditemukan. Wanita penggunanya mudah membelinya di pasar, online, dan testimoni pengguna lain. Pembelian produk krim pemutih wajah lewat online, kata dr Rifki, lebih berbahaya karena kandungan produknya tidak diketahui.

Lelaki kelahiran Jogjakarta, 1 Mei 1988, itu meminta masyarakat untuk lebih cerdas dalam memilih produk kosmetik khususnya krim untuk wajah. Ia tidak menampik, mayoritas wanita menginginkan kulit yang putih dan cerah. “Sebaiknya sebelum penggunaan dilakukan, konsultasikan pada dokter kulit atau ahli estetika,” sarannya.

Ia menjelaskan, pemakaian kosmetik khususnya krim tidak bisa sembarangan. Pemakaiannya harus disesuaikan dengan jenis kulit.

Krim pemutih kulit yang cocok bisa diketahui lewat konsultasi kepada dokter kulit atau ahli estetika. Hal itu penting karena ada kulit normal, berminyak, dan berjerawat. “Setelah diketahui jenis kulitnya, baru diberikan krim hasil racikan dokter,” jelasnya.

Krim kulit pemutih wajah hasil racikan itu, ungkap dr Rifki, disesuaikan hasil analisa dokter. Beberapa kandungan yang ada dalam krim racikan dokter yang sudah diuji BPOM, antara lain, merkuri. Kandungan zat kimia ini tidak boleh lebih dari lima persen. Kadarnya pun harus sesuai dengan jenis kulit penggunanya.

Krim pemutih juga wajib mengandung vitamin A (untuk mencegah penuaan), vitamin C (untuk mencerahkan kulit), dan steroid (untuk mencegah peradangan kulit). “Misalnya kalau kulit berjerawat, ada tambahan antibiotik,” tambahnya.

Pemakaian produk kosmetik abal-abal, khususnya krim, bisa diketahui dari gejala awal minimal satu hari pasca pemakaian. Jika kulit wajah terasa pedih dan terjadi pengelupasan serta peradangan, krim yang digunakan dipastikan abal-abal.

“Untuk itu, masyarakat harus cerdas sebelum menggunakan produk kosmetik apa pun,” imbau lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.

Menurut dr Rifki, ada cara yang paling sederhana untuk membedakan kosmetik asli atau abal-abal. Krim abal-abal itu label kemasannya tidak mencantumkan izin edar dari BPOM. “Selanjutnya adalah kandungan dari produk kosmetik tersebut,” tuturnya.

Soal harga, kosmetik asli dan abal-abal, dr Rifki menyatakan, sebenarnya tidak jauh berbeda. Kalaupun ada perbedaan harga, hanya sedikit. Di Klinik Kecantikan London Beauty Centre misalnya, untuk satu paket berisi krim pagi, krim malam, sabun, dan toner, wanita yang ingin tampil cantik cukup membayar Rp300 ribu.

“Sebaiknya pilih yang asli, jangan yang abal-abal,” imbaunya.

Ia menceritakan pengalamannya menangani pasien. Beberapa pasiennya datang dengan berbagai keluhan kulit wajah, mulai dari flek hingga berjerawat. Menurutnya, keluhan itu akibat penggunaan krim pemutih tanpa konsultasi dengan dokter. “Karena pemakaian harus disesuaikan dengan kondisi kulit,” tegasnya. (Susi K/Radar Banten)