SERANG – Situs Tirtayasa, Kampung Tirtayasa, Desa Tirtayasa, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang kondisinya kurang terawat. Fasilitas di dalamnya pun hampir semuanya alami kerusakan parah seperti pagar, jalan, tempat penginapan, mushola dan lainnya. Sebagai Makam Pahlawan Nasional Sultan Ageng Tirtayasa, situs ini sangat kumuh dan memprihatinkan.

Di depan halaman Situs Tirtayasa, pengunjung akan dihadiahi tumpukan sampah berserakan dimana-mana. Pagar di sekelilingnya pun rusak, berkarat dan beberapa tiang pagar sudah roboh. Lalu, Radar Banten Online (RBO) mencoba masuk ke belakang museum, ada tempat penginapan yang digunakan pengunjung untuk bermalam usai ziarah. Sayang, tak terpakai. Seluruh atapnya roboh. Fasilitas penginapan yang miliki 4 kamar dan 1 kamar mandi ini pun tak terpakai dan sudah 2 tahun terbengkalai.

Benar-benar tak menggambarkan situs peninggalan seorang tokoh yang mempertaruhkan hidupnya melawan dan mengusir kolonial Belanda yang pada saat itu sering berlaku curang memonopoli warga Banten dan suka mengadu domba.

RBO menemui Muhamad Jahidi Umar, seorang Pengelola Makam Pahlawan Nasional Sultan Ageng Tirtayasa. Usianya sudah sepuh. Di amben dekat warung warga, RBO duduk bersama Jahidi berbincang-bincang sambil menyeruput kopi luwak. Siang itu, terik matahari tak begitu menyengat lantaran sepoi angin berhembus membelai kulit langsat RBO juga Jahidi dan beberapa pengunjung di sekitarnya.

“Fasilitas begini kumuhnya bukan wewenang kami. Kami hanya ditugasi oleh Provinsi dan Kabupaten untuk menjalankan tugas, berkegiatan ziarah dan menjaga makam Sultan Ageng Tirtayasa ini,” ucap Jahidi, Minggu (13/8)

Ia ingin sekali memberikan fasilitas ternyaman untuk para peziarah yang datang, karena menurutnya bila pengunjung merasakan kenyamanan berwisata religi disini (Situs Tirtayasa-red) tentu akan mengharumkan nama Kabupaten Serang dan Provinsi Banten. Karena, kata Bapak yang sudah mengelola makam sejak 2004 ini, pengunjung datang bukan hanya dari Indonesia saja melainkan dari luar negri seperti Belanda, Prancis dan lainnya.

“Memang belum ada perhatian dari pemerintah, kami menyumbang ala kadarnya tidak seberapa untuk membangun beberapa fasilitas. Pembangunan pun sejak dulu ini hasil swadaya peziarah,” ujarnya.

Ketika wisatawan hendak masuk, akses untuk kendaraan roda empat pun terkendala jalan yang masih sempit, padahal banyak yang ingin masuk ke makam dan situs ini.

“Atap maushola juga bocor, kalau hujan murni bocor semua, gimana mau nyaman siang-malam juga bocor. Saya yang merasakan bertahun-tahun disini. Ini menyangkut kepentingan banyak orang kalau bocor kaya gini ngga nyaman,” tuturnya.

Bahkan pria yang mengaku menjaga makam secara turun temurun ini, ingin membangun fasilitas secara swadaya, karena menurutnya, pemerintah hanya berkata manis saja tidak pernah merealisasikannya. “Kemarin saat haul saja pemerintah (Pemkab Serang-red) akan segera membangun fasilitas ini. Sampai saat ini, belum juga ada buktinya. Ya mau gimana lagi, disini saya hanya menjalankan tugas, menjaga makam orang mulya meskipun kondisi kumuh seperti ini,” pungkasnya. (Anton Sutompul/antonsutompul1504@gmail.com).