Love Story: Pengin Nakal kok Tunggu Istri Melahirkan

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

BULE (29), bukan nama sebenarnya, pantas menyandang status istikamah alias ikatan suami takut istri kalau di rumah. Bule dulu bukan Bule yang sekarang, beda banget. Mungkin karena masih pengantin baru kali, ya. Sejak menikah dengan Eha (25), juga nama samaran, sekira enam bulan silam, pria bertubuh atletis ini kerap dirundung pilu selama menjalani rumah tangganya.

Pegawai swasta di sebuah perusahaan di Serang ini selalu merasa waswas kalau semua yang dilakukannya bisa berujung karma. Apalagi, Bule menyadari bahwa istrinya kini sedang hamil muda. Membuat pria berkulit agak gelap ini semakin dihantui rasa takut berlebih. Khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan pada kandungan istrinya.

“Sekarang tuh saya lagi takut kalau terjadi hal yang tidak diinginkan sama istri,” ungkap Bule. Maksudnya apa tuh? Belum paham kan? Yuk kita simak ceritanya.

Sebetulnya Bule ini bukan tipikal suami setia, melainkan tak lebih dari lelaki hidung belang. Bahkan, dia juga terang-terangan kalau sudah menghilangkan status perjakanya sebelum menikah dengan Eha. Ia juga tak memungkiri, semasa berstatus bujangan sering jajan sembarangan. Ow ow ow, benar-benar buaya. Sampai akhirnya Bule bertemu dengan Eha si cantik jelita.

Awalnya, Bule sempat berpikir untuk bertobat ketika resmi menjadi suami Eha. Lantaran kerap mendapat hasutan dari teman-teman sepermainannya yang masih intens berkomunikasi, penyakit mata keranjang Bule kambuh lagi. Hihuh.

Tanpa sepengetahuan sang istri, acap kali yang diomongkan Bule kini tak lebih dari sosok perempuan. Baik di tempat kerja, di rumah, atau ketika berkumpul dengan rekan-rekannya, Bule tak pernah mampu menahan pandangannya terhadap figur wanita. Terlebih, jika wanita itu masih muda, cantik, bohai, serta berpenampilan seksi. Eaaaa. “Namanya juga laki-laki,” belanya. Ya, laki-laki buaya.

Padahal, sosok Bule juga tidak ada yang bisa dibanggakan. Pendapatan, wajah, serta penampilannya pas-pasan. Tak heran, dia begitu merasa bangga bisa memiliki istri secantik Eha. Kulit putih, hidung bangir, serta postur tubuh ideal yang dimiliki Eha membuat Bule merasa orang paling beruntung dan berbahagia di dunia. Bule tidak menyangka, Eha mau menerimanya sebagai pacar. Bahkan, kini menjadi pendamping hidup selamanya yang mengubah kehidupan Bule menjadi semakin sempurna.

Selain itu, profesi Eha juga cukup menjanjikan, yakni sebagai tenaga pendidik meskipun masih berstatus honorer. Kondisi itu memaksa Bule mulai berpura-pura menjadi suami setia di depan Eha. Segala permintaan istri pasti diturutinya. Sebaliknya, ketika Eha tak mau mendengarkan nasihat suami, Bule tak pernah memberikan teguran, apalagi marah, saking takutnya kehilangan.

Sejak menikah, Bule mengaku lama sudah meninggalkan yang namanya dunia hitam. Dulunya Bule mengakui sering main ke tempat hiburan malam, pijit plus-plus, sampai memilih pacar yang mau diajak hubungan ala kebarat-baratan. Kalau mendapat pacar yang hanya ketemuan dan mengobrol biasa, pasti segera ditinggalkannya. Sekarang dunia Bule berbeda, menjadi lebih alim dan rela menumpahkan perhatiannya hanya untuk sang istri.

“Sebetulnya, bukan takut istri saya menurut kayak begini, terus enggak mau main-main sama perempuan sekarang. Cuma takut ada apa-apa saja sama kandungan istri nantinya,” akunya, eit dah, kepikiran juga hal begituan. Baguslah. Terus ceritanya mau tobat nih?

“Ah enggak juga, lihat nanti kalau istri sudah lahiran,” celotehnya. Buset dah, tobat Kang.

Diceritakan Bule, pertemuan dengan Eha gara-gara dikenalkan temannya, sebut saja Toing. Eha kebetulan saat itu juga sedang serius mencari teman hidup sehingga sengaja dicomblangkan dengan Bule.

Maksud Toing supaya Bule berubah menjadi sosok baik dan bisa hidup di jalan yang benar. Toing tahu betul karakter Eha yang cukup fanatik dengan agamanya, tanpa bermaksud menjerumuskan Eha. Toing sepertinya mengetahui betul kalau di balik sifat negatif Bule saat itu, tersimpan sisi positifnya. Alasan itu sebetulnya pengakuan dari Bule. Mudah-mudahan saja benar, Bule tidak mengarang bebas menjelaskan alasan Toing menjodohkannya dengan Eha.

Singkat cerita, bertemulah Bule dengan Eha. Pandangan pertama Bule langsung tergoda dengan sosok Eha yang berpenampilan begitu religius. Lain dengan Bule yang berpenampilan ala kadarnya. Lantaran itu, Bule langsung kepincut dan berpikir bahwa Eha-lah jodohnya yang selama ini dicari-cari.

“Walaupun saya brengsek, tapi kan enggak mau punya istri sama brengseknya. Harus lebih baik dong, syukur-syukur sempurna. Makanya, punya istri seperti Eha itu, bagi saya suatu anugerah,” ucapnya. Lebay, iya bagi Eha musibah. Hehehe, bercanda Kang.

Namun, sepertinya mendapat anugerah itu tak serta-merta membuat Bule berubah menjadi karakter yang berbeda. Maksudnya, menjadi lebih baik dari sebelumnya. Hal itu dipicu Bule yang masih menjalin hubungan dengan rekan sepenanggungannya dulu. Maksudnya, sama-sama hidung belang dan suka berbuat nakal kepada kaum hawa. Eha juga sampai saat ini tak menyadari itu.

Hal itu lantaran Bule selalu menunjukan sebagai sosok lelaki yang siaga dan setiap mendampingi Eha. Termasuk, tak pernah sekalipun menunjukkan kemarahannya kepada Eha dari sejak pacaran sampai menikah. Di depan Eha, seolah-olah Bule menjadi suami yang diidamkan semua kaum perempuan. Bule sangat pandai memainkan perannya menutupi segala kekurangannya. Salat lima waktu tak pernah telat, pulang kerja juga tak pernah telat, dan tak pernah lupa memperhatikan istrinya di rumah.

Seperti setiap Bule ketemu Eha, ‘kamu sudah makan belum. Awas jangan lupa makan, nanti atit (maksudnya sakit)’ begitu kira-kira perhatian yang kerap ditunjukkan kepada istrinya. Banyak hal positif lainnya yang dilakukan Bule kepada Eha yang bisa membuat istrinya terpana. Seperti ketika Eha kehabisan pulsa, pasti langsung dikirim Bule. Atau lagi mau belanja, pasti dipenuhi. Semua permintaan Eha pokoknya selalu dikabulkan oleh Bule.

“Istri itu tahunya saya orang baik. Untungnya, saya punya teman enggak ember. Soalnya, mereka juga lihai bersandiwara di depan para istrinya,” ungkapnya. Pantas saja, boleh dong diajarin.

Saat ini, Bule menjalani hidup dengan Eha bagai air mengalir saja. Kalau diajak ke jalan yang lurus, pasti Bule ikuti. Begitu pula ketika ada yang mengajaknya sesat, Bule tidak memungkiri bisa kembali terjerumus jatuh ke lubang yang sama, yakni dunia hitam.

“Ya, sekarang jalani saja hidup ke mana pun angin berembus. Teman-teman sih sudah ngajakin negatif aja. Tapi, sejauh ini masih pada mengerti kok kalau alasan saya menolak dianggapnya masih masuk akal,” tandasnya. Saya doakan mudah-mudahan berubah menjadi baik seterusnya, amin. (Nizar S/Radar Banten)