Love Story: Suami Hiper, Terima Saja

0
369
Love Story
Love Story

KEHIDUPAN rumah tangga Meti (41), nama samaran, sekilas tampak bahagia. Selain kehidupan yang mapan berkat berwirausaha hasil warisan keluarga, Meti juga di usianya yang mapan memiliki suami yang usianya lebih muda, gagah, serta tampan seperti Duyeh (35), bukan nama sebenarnya. Tentu, kriteria seperti itu menjadi dambaan setiap wanita mana pun dong. Namun, ternyata di balik semua itu, menjadi istri Duyeh, Meti terus diterpa badai cobaan.

Bukan karena Duyeh orangnya tidak perhatian, baik terhadap Meti atau anak semata wayangnya yang kini mulai beranjak dewasa, melainkan sang suami memiliki sifat temperamental. Belum lagi kelainan seksualnya yang melampaui batas. “Kalau orang-orang bilang, suamiku tuh hiperseks,” ujarnya. Ih ngeri deh, ngeringet.

Seperti tak kenal waktu, tempat, serta kondisi. Duyeh jika sudah ingin begituan, Meti tak akan sanggup menahan. Seperti seorang musafir yang kehausan di padang pasir. Belum juga pemanasan, dengan tatapan nakal Duyeh yang tajam sembari napas ngos-ngosan, keringat Meti sudah bercucuran duluan. Belum lagi, Duyeh begitu ganas ketika sudah melakukan itu. Ini membuat Meti nyaris tak bisa melawan.

Kalau sudah habis minum minuman keras yang menjadi kebiasaan Duyeh setiap berkumpul dengan temannya, perilaku suaminya itu bisa lebih parah. Sekali ketemu, Duyeh bisa meminta berhubungan intim lebih dari tiga kali. Jika dikalkulasikan dalam sehari penuh, waduh bisa tekor bayar air bulanan karena keseringan mandi. “Kalau saya ngelawan apalagi nolak, suami bisa marah dan bisa main kasar,” keluhnya. Widih, sadis amat.

Diungkapkan Meti, kalau Duyeh sudah kepengin, orangnya tidak banyak bicara, tetapi langsung main hajar. Duyeh juga gemar berfantasi. Meti selalu mengeluh kewalahan menghadapi keberingasan Duyeh! Uh, dengarnya juga capek Teh.

Diceritakan wanita berwajah mirip Iis Dahlia ini, sebetulnya dari semenjak pacaran sudah mengetahui perilaku menyimpang suaminya itu. Namun, kondisi tak menguntungkan itu tak diindahkan Meti. Wanita berambut panjang semampai dan bertahi lalat di hidung ini, bertekad untuk mencuri hati Duyeh. Meti terpesona dengan kegantengan Duyeh, di samping status Duyeh yang berasal dari kalangan keluarga berada. Dasar matre.

Keinginannya untuk menjadi pendamping Duyeh memang sudah direncanakan dari awal bertemu. Duyeh merupakan adik teman kerja Meti, sebut saja Esih. Pertama kali bertemu, Meti sedang bermain ke rumah Esih, tak sengaja bertemu dengan Duyeh yang masih berseragam putih abu-abu. Namun, entah apa yang merasuki Meti yang dikenal playgirl di kampusnya ini, hingga langsung kepincut dengan sosok Duyeh yang juga sudah tampak sifat playboynya.

Niat Meti ingin berkenalan dengan Duyeh, sempat ditentang Esih. Maksud Esih, bukannya takut adiknya bakal dipermainkan Meti. Justru Esih khawatir, Metilah yang akan terjebak ke sarang buaya ganas dan mematikan. Berulang kali Esih mengingatkan Meti agar berhati-hati terhadap adiknya, ternyata tak sedikit pun digubris oleh wanita yang gemar berpenampilan seksi itu.

Semua larangan itu, tak lain lantaran Esih paham betul dengan perilaku negatif adik keduanya itu. Termasuk, orangtuanya juga selalu dibikin pusing oleh kelakuan Duyeh yang kerap berganti pasangan. Belum lagi, rata-rata pasangannya yang sering dibawa ke rumah, selalu lebih dewasa dan berpenampilan tak senonoh. Alamak.

Dengan bukti itu, bukannya Duyeh yang bakal dipermainkan Meti, melainkan sebaliknya, status playgirl Meti bisa sirna digerogoti taring Duyeh yang tajam setajam silet. Singkat cerita, atas dasar suka sama suka dan sama-sama buaya, keduanya sepakat menjalin cerita cinta. Bermula dari Meti yang mengawali hubungannya dengan mengajari Duyeh teknik pacaran orang dewasa, justru Meti tidak menyangka jika ternyata Duyeh lebih lihai dalam urusan asmara. “Kaget juga pas pertama kali ngajak begitu. Belum juga pemanasan, sudah ke intinya aja,” ungkapnya.

Menyadari hal itu, Meti semakin tertantang mengetahui lebih jauh soal keganasan Duyeh yang saat itu dianggapnya masih bocah ingusan. Singkat cerita, hubungan mereka lama-lama makin tak wajar. Mereka ketagihan berhubungan intim setiap kali bertemu, kadang di kamar Duyeh, kadang di tempat kos Meti, atau sengaja menyewa kamar hotel untuk mencari sensasi lain.

Tak sadar akibat perbuatan tak senonoh Meti dan Duyeh, membuat fisik Meti semakin lama semakin mengalami kelainan. Seiring waktu, perut Meti semakin membuncit. “Memang dari awal sengaja pacaran sampai begitu tanpa pengaman biar hamil. Maksudnya, biar langsung dinikahi Duyeh,” akunya. Buset dah!

Mengetahui Meti hamil, Duyeh malah kaget dan langsung panik. Maklum, namanya juga anak ingusan. Jangankan membangun mahligai rumah tangga, membetulkan tali sepatu saja masih dibantu ibunya. Apalagi, Duyeh anak paling dimanja orangtuanya.

Lantaran itu, baik Duyeh maupun pihak keluarga sempat menolak mati-matian untuk menikahi Meti. Dengan alasan Duyeh dijebak, belum lagi statusnya yang masih pelajar. Begitu pula dengan Esih yang ikut emosi dengan kelakukan Meti yang tidak pernah mendengar nasihatnya.

Situasi itu, membuat perselisihan di antara Meti dan Duyeh tak terhindarkan. Malah, Duyeh jadi sering menghindar setiap didatangi Meti. “Enak amat ngomongnya Duyeh waktu itu. Sudah menggagahi, tapi ngakunya kalau itu risiko kenapa saya mau, begitu. Bikin emosi kan?” kesalnya. Ya Teteh sendiri salah, sudah tahu anak ingusan berpikirnya dangkal.

Namun, bantahan Duyeh tak mengurungkan niat Meti untuk terus berjuang agar Duyeh dan keluarga mau menerima Meti jadi istrinya. Perjuangan Meti pun, dengan mendatangkan orangtua ke rumah Duyeh akhirnya mampu membujuk orangtua Duyeh yang malu dengan aib keluarga mereka. Atas desakan kedua orangtua, akhirnya Duyeh mau menikahi Meti. Sampai akhirnya, keduanya melangsungkan pernikahan secara sederhana tanpa pesta. Hanya dihadiri tetangga, keluarga, dan penghulu di rumah Meti yang jauh dari permukiman.

Kehidupan mereka pun tetap dimanjakan orangtua dengan membangunkan tempat tinggal. Tentunya, semua itu membuat Duyeh semakin jemawa. Sikap Duyeh semakin kasar sejak pernikahan. Meski demikian, tak melunturkan rasa haus berahi Duyeh terhadap Meti. Malah, Duyeh semakin beringas.

Namun, Meti yang memang menjebak Duyeh agar mau menikahi, malah saat ini merasa dilanda penyesalan. Dengan perilaku Duyeh yang menyimpang, Meti mulai tidak menyanggupi permintaan Duyeh. Apalagi, pas usia kandungan Meti mulai matang, libido Duyeh semakin over. Meti kewalahan dan mulai tak sanggup lagi menghadapi Duyeh yang suka berlama-lama berhubungan suami istri, bisa berjam-jam. Kapan pun berahinya memuncak, profesinya yang hanya wirausaha warisan keluarga, Duyeh bisa pulang sesuka hati. Di otak Duyeh hanya bagaimana kebutuhan biologisnya bisa terpenuhi.

“Kalau enggak dilayani, marah besar. Tapi, ke sayanya juga capek, setiap pulang usaha, inginnya langsung gituan, capek deh,” keluhnya. Ya terima aja.

Pernah sekali Meti menolak dan menerima kemarahan Duyeh, ujung-ujungnya Duyeh jajan di luar. Bahkan, beberapa kali Meti memergoki aksi Duyeh. Namun, Meti memakluminya dan tak pernah berpikir untuk mempermasalahkannya dan menggugat cerai Duyeh.

“Pas tahu suami begitu, sekarang saya layani aja. Daripada main perempuan. Memang dari awal saya yang salah. Sekarang terima saja,” akunya. Sadar juga akhirnya, ya yang sabar aja. (Nizar S/Radar Banten)