Luhut: Ide Pak Dahlan Benar

Terkait Gebrakan Pengembangan Mobil Listrik

SURABAYA – Tekad agar Indonesia menjadi produsen mobil listrik disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Jenderal TNI (pur) Luhut Binsar Pandjaitan, Selasa (18/7). Menurut Luhut, ide dan gebrakan Dahlan Iskan untuk terciptanya mobil listrik sangat tepat. Karena itu, apabila sempat mengendur, kini proses harus didorong lagi. Jika tidak, Indonesia hanya akan menjadi pasar bagi negara-negara yang sudah memproduksi lebih dulu.

Demikian disampaikan Luhut saat berkunjung ke rumah Dahlan Iskan di Surabaya, Selasa (18/7) sore. Mantan menteri koordinator bidang politik hukum dan keamanan tersebut menyempatkan diri mampir setelah melakukan kunjungan ke PT Barata Indonesia di Gresik.

Kunjungan dadakan itu membuat Dahlan terkejut. “Saya tidak menyangka ada menteri yang berani mendatangi seorang terdakwa,” ucap Dahlan sambil tersenyum.

Mendengar hal tersebut, Luhut langsung menanggapi dengan jawaban khas Suroboyoan. “Urusane opo, kan konco (tidak masalah, kan teman),” kata Luhut hangat.

Luhut menyempatkan diri melihat mobil listrik Tesla Model X yang terpakir di teras rumah Dahlan. Dia mengajukan beberapa pertanyaan tentang spesifikasi mobil tersebut. “Mobil listrik (di Indonesia-red) harus didorong. Tidak ada emisinya,” katanya sambil menatap Tesla.

Dahlan membuka kap depan sedan sekelas Mercy tersebut. Isinya kosong. Fungsinya untuk bagasi, sama dengan isi kap belakang. Tidak seperti kendaraan konvensional yang kap depannya dipenuhi mesin dan perangkatnya. “Baterai ada di bawah,” ucap Dahlan.

Mantan menteri BUMN itu menjelaskan, sekali mengisi daya, Tesla miliknya tersebut bisa menempuh jarak hingga 500 kilometer. Akselerasi mobil listrik juga jauh lebih bagus daripada mobil berbahan bakar.

Luhut sependapat dengan Dahlan tentang betapa majunya teknologi mobil listrik saat ini. Karena itu, pemerintah sedang mendorong agar Indonesia memiliki mobil listrik. Sebab, bagaimana pun bahan bakar minyak akan habis. Sumber energi itu juga mengeluarkan emisi yang berdampak buruk pada lingkungan. Sebaliknya, mobil listrik tidak mengeluarkan emisi yang mencemari lingkungan.

“Karena itu, ide Pak Dahlan dulu mendorong terwujudnya mobil listrik sudah sangat benar. Bukan hanya benar, tapi sangat benar,” tegas Luhut.

Menurut pria yang pernah menjabat kepala staf kepresidenan itu, sepuluh tahun lagi pasar mobil listrik di dunia bisa mencapai 20 persen. Saat ini, di Tiongkok, semua sepeda motor sudah menggunakan listrik. “Kita tidak boleh terlambat. Kita jangan mau jadi market (mobil listrik-red) dari negara-negara Barat,” imbuhnya.

Karena itulah, Luhut berharap ide Dahlan yang sejak dulu getol menginisiasi produksi mobil listrik dalam negeri harus di-speed up. Dia sudah meminta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) agar bekerja keras mewujudkan hal tersebut.

Sejak menjabat menteri BUMN, Dahlan memang getol mengampanyekan pengembangan mobil listrik di Indonesia. Dia membina anak-anak muda yang ahli untuk membuat prototipe mobil listrik. Bahkan, Dahlan tak segan merayu anak muda Indonesia yang berkiprah di luar negeri agar mau pulang untuk merealisasikannya.

Ada lima orang yang dibina untuk mewujudkan pengembangan mobil listrik di Indonesia. Mereka diberi nama Pandawa Lima. Dahlan merogoh kocek sendiri untuk membiayai kegiatan pengembangan prototipe mobil listrik yang dilakukan lima orang tersebut. Satu per satu prototipe pun akhirnya berhasil dibuat mereka. Ada yang membuat motor listrik, city car, MPV premium, hingga supercar seperti Selo.

Ide Dahlan juga langsung disambut pemerintah ketika itu. Pemerintah saat itu langsung membuat rencana strategis pengembangan mobil listrik nasional atau Molina.

Luhut menegaskan, Indonesia sangat mampu untuk memproduksi mobil listrik. “Indonesia isinya orang-orang pintar kabeh. Tinggal ada kesempatan atau enggak,” ujarnya.

Dalam kunjungan kemarin, Luhut dan Dahlan juga berdiskusi tentang kondisi ekonomi nasional. Pengembangan sejumlah wilayah di Indonesia menjadi fokus Luhut. Salah satunya adalah Kalimantan Utara dan Pulau Bali. (JPG/RBG)