Sebanyak 16 tenaga kerja Indonesia (TKI) dipulangkan dari Johor Bahru, Malaysia, melalui Pelabuhan Internasional Batamcenter, Kepulauan Riau, kemarin (14/7). Mereka dipulangkan karena beberapa sebab. Salah satunya melanggar keimigrasian.

Pendamping Kementerian Sosial Kota Batam Febrina menyatakan, rata-rata TKI yang dipulangkan tersebut bermasalah dengan izin kerja. Mereka diiming-imingi para calo (agen) untuk bekerja di Malaysia dengan gaji besar dan bisa menggunakan paspor pelancong. ”Setelah bekerja tiga bulan, gaji-gaji mereka ternyata tidak dibayar agennya,” ujar perempuan berkerudung tersebut kepada Batam Pos (Jawa Pos Group).

Soal gaji itu, lanjut dia, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Johor Bahru tidak bisa melacak agen tersebut. Alasannya, mereka tidak mengetahui alamat majikan atau agen yang membawa para TKI itu ke negeri jiran. ”Mereka menjanjikan bekerja di Malaysia hanya menggunakan paspor pelancong,” ucapnya.

Para TKI itu pun terpaksa merayakan Lebaran di selter penampungan sementara Dinas Sosial (Dinsos) Kota Batam. Sebab, kapal Pelni yang akan membawa mereka ke Jawa sudah penuh. Meski begitu, mereka tetap berharap bisa segera berkumpul dengan keluarga di kampung halaman.

”Rata-rata mereka dari Jawa. Ada Jakarta, Cirebon, dan Surabaya. Lalu, ada dua orang dari Nusa Tenggara Barat dan Pontianak, Kalimantan Barat. Semua merupakan perempuan berusia 20-35 tahun,” ungkap Febrina.

Heni, salah seorang TKI di Dinsos Batam, menuturkan terpaksa melompat dari lantai 2 hotel. Sebab, dia ditipu mentah-mentah oleh agen yang membawanya dari Jakarta ke Malaysia. Menurut perempuan 20 tahun tersebut, dia sebelumnya dijanjikan bekerja di restoran.

”Tapi, tahu-tahunya malah bekerja di spa plus-plus. Saya nekat loncat dari lantai 2. Sementara teman saya yang berada di lantai 4 juga nekat loncat. Namun, dia patah kaki dan bahu,” ungkapnya.

Berbeda dengan pengakuan Heni, TKI lainnya berinisial M asal Surabaya terpaksa pulang ke kampung halamannya sendiri karena tengah berbadan dua. Dia saat ini hamil tujuh bulan. Sementara itu, suaminya yang juga warga Jawa Timur ditangkap kepolisian Malaysia. ”Rata-rata mereka bermasalah semuanya. Makanya dipaksa pulang ke Indonesia,” ucap Febriana.

Kasi KTKPN Dedy Suryadi yang mewakili Kabid Banjamsos Dinas Sosial (Dinsos) Kota Batam Nur Arifin menyatakan akan terus berupaya memulangkan para TKI itu ke kampung halaman. Namun, karena bertepatan dengan Lebaran, mereka harus menunggu hingga 22 Juli. ”Kami sudah hubungi Pelni. Namun, karena tiket sudah tidak ada, mau tak mau Lebaran di sini,” paparnya.

Dia berjanji mengunjungi TKI di selter penampungan sementara saat Lebaran. Soal izin keluar bagi TKI, kata dia, bergantung siapa yang menjemput. (rng/mas/diq/JPNN)
BAGIKAN