Pada sebuah diskusi bertema ‘Pentingkah Dewan Kesenian Banten’ yang dihelat Forum Seniman Banten (FSB) di Rumah Dunia, Senin (3/8/2015) lalu, Plt Gubernur Banten menyatakan tentang pentingnya Dewan Kesenian Banten (DKB), baik dalam kapasitas pribadinya sebagai seniman maupun posisinya yang kini memegang tampuk pimpinan pemerintahan di Provinsi Banten. Penegasan ini sebagai salah satu jawaban atas kegelisahan Rano terhadap kondisi perkembangan seni dan budaya di Banten. Bahkan dalam diskusi yang berlangsung hangat dan akrab tersebut, Rano menantang para pemangku kepentingan agar DKB ini terbentuk kembali paling lambat pada ulang tahun Provinsi Banten pada 4 Oktober mendatang. Tantangan Rano ini tampaknya merespons semangat para seniman yang ingin membangkitkan kembali DKB. Semua bersepakat, DKB dianggap penting sebagai mitra pemerintah sekaligus sebagai jembatan komunikasi antara pelaku seni dengan pemerintah.

Banten sebenarnya sudah memiliki DKB dengan dua periode kepemimpinan. Seakan mengiringi pembentukan Provinsi Banten yang saat itu masih belia, pada 2002 Pemprov Banten membentuk DKB yang kala itu dipimpin almarhum Yosep Iskandar. Namun karena pembentukan DKB itu dianggap terlalu tergesa-gesa dan tak melibatkan banyak pelaku seni, DKB nyaris tak banyak berbuat. Pada periode ini pemerintah dianggap terlalu mendominasi sehingga oleh sebagian besar seniman keberadaannya sama saja dengan ketiadaannya. Pun demikian dengan periode kedua yang nyaris tak terdengar geliatnya.


Dua periode kepemimpinan DKB yang pahit tersebut haruslah menjadi pelajaran semua pihak, baik pemerintah maupun seniman. Rano sudah menegaskan bahwa dirinya tidak akan melakukan intervensi terhadap revitalisasi DKB ini. Ia tak mempermasalahkan siapapun kelak yang akan mengisi ketua maupun komite-komite di DKB. Ia menyerahkan sepenuhnya pengisian tersebut kepada seniman. Ini merupakan sinyal positif agar sosok-sosok yang kelak duduk di DKB tidak terkontaminasi kepentingan lain, selain untuk pengembangan kesenian dan proyek kebudayaan dalam pembangunan Banten. Penegasan Rano yang memberikan kesempatan kepada seniman untuk revitalisasi DKB ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh seniman untuk mencari figur yang tepat untuk memimpin DKB.


Toto st Radik, budayawan dan penyair Banten memberikan peringatan dini kepada semua pihak yang bersemangat membangkitkan kembali DKB. Menurutnya, revitaliasi DKB tetap harus difikirkan dengan matang agar tidak terjerumus ke lobang yang sama dengan dua periode sebelumnya. Saya sepakat dengan penegasan Toto st Radik, agar keinginan membentuk kembali secepatnya DKB jangan dilakukan tergesa-gesa. Dan saya rasa waktu 3 bulan yang diberikan Rano Karno seharusnya bisa dimanfaatkan semua pihak untuk mengkaji, merumuskan, mencari lalu menentukan siapa figur yang tepat berada di DKB.

Semoga semangat bersama untuk membangkitkan kembali DKB ini menjadi titik mula untuk semakin menggairkan seni budaya di Banten. Karena tujuan akhir dari semua ini adalah bukan sekadar bangkitnya kembali DKB dengan diisi orang-orang baru tapi memberikan aura positif untuk tumbuh kembang seni budaya di Banten. Jangan sampai setelah dibentuk kembali, sosok yang duduk di DKB hanya dodok ngejedog di balik meja dengan modal surat keputusan (SK) saja. (*)
BAGIKAN