Nelayan Cikeusik Keluhkan Hasil Tangkapan

Puluhan kapal nelayan Cikeusik bersandar di Kampung Muara, Desa Cikiruhwetan, Kecamatan Cikeusik, Selasa (14/11). Kapal tersebut tidak digunakan melaut lantaran sedang datang musim paceklik.

CIKEUSIK – Sejumlah nelayan di Kampung Muara, Desa Cikiruhwetan, Kecamatan Cikeusik, mengeluh hasil tangkapan ikan yang didapatkan.

Akibatnya, mereka kerap kekurangan modal hingga terpaksa menjual perlengkapan rumah tangga seperti televisi dan kulkas untuk menutupi biaya melaut hari berikutnya. “Dua minggu lalu saya turun melaut, hasilnya satu kuintal ikan pun tak dapat. Itu pun saat mau berangkat melaut saya pinjam uang ke tetangga dengan jaminan TV (televisi) dan kulkas,” kata warga Kampung Muara, Desa Cikiruhwetan, Sabirin kepada Radar Banten, Selasa (14/11).

Menurut Sabirin, kondisi paceklik bagi para nelayan saat ini selain disebabkan cuaca, juga karena maraknya penangkapan ikan oleh para nelayan besar yang menggunakan jaring tangkap modern. “Kalau kondisinya seperti ini terus, kami kewalahan. Sementara, beras juga harus dibeli,” katanya.

Sabirin berharap, pemerintah pusat, Pemprov, maupun Pemkab dapat memberikan bantuan. Serta membuat regulasi tentang teknis penangkapan ikan di laut agar nelayan tradisional tidak tersisih. “Seharusnya dalam posisi saat ini ada bantuan modal untuk nelayan sehingga nelayan tidak kewalahan saat melaut,” katanya.

Dihubungi melalui telepon seluler, Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Pandeglang Anton Harulsamsi mengaku telah mendapatkan laporan terkait permasalahan yang dialami nelayan. Kata dia, persoalan itu terjadi di antaranya karena maraknya nelayan asing yang masuk menggunakan alat tangkap yang dilarang seperti bom ikan dan pukat harimau. “Wajar saja jika ikan di perairan kita mengurang lantaran hasil laporan tidak sedikit nelayan asing yang masuk dan tidak bertanggung jawab,” katanya.

Kepala Desa (Kades) Cikiruhwetan Lukman Hakim mewajarkan jika pendapatan nelayan lantaran tergantung pada musiman. “Kalau menurut saya, pendapatan nelayan masih ada musiman, ada musim paceklik dan musim memanen. Biasanya waktu tertentu juga ada pendapatan yang bagus,” katanya.

Lukman menyarankan, untuk mensatabilkan perekonomian nelayan, harus didukung dengan koperasi nelayan yang optimal. “Sehingga pada musim paceklik nelayan tidak kesulitan modal,” sarannya.

Soal kondisi kurangnya modal untuk nelayan saat ini, Lukman berjanji untuk menyampaikan ke Pemkab khususnya pada Dinas Perikanan. “Namun, tetap akan kita sampaikan kondisinya ke Pemkab biar nelayan ini terus mendapat pembinaan,” katanya. (Herman/RBG)

BAGIKAN