Nelayan di Lebak Selatan Memberanikan Diri Melaut

Nelayan
Ilustrasi/jpnn

RANGKASBITUNG – Nelayan tradisional di Lebak Selatan telah kembali melaut. Gelombang tidak lagi setinggi pada Kamis (9/6) yang sampai memicu rob (banjir air laut).

Kepala Desa Cirendeu, Kecamatan Cilograng, Herdiana mengatakan bahwa para nelayan sempat berhenti melaut selama satu pekan akibat cuaca buruk di perairan Banten Selatan. Untuk menghidupi keluarganya, sebagian nelayan tradisional itu alih profesi menjadi tukang ojek, sebagian lagi ada yang hanya memperbaiki alat tangkap ikannya di pesisir pantai.

“Di Cirendeu, ada 65 orang nelayan. Mulai tadi pagi (kemarin-red), mereka sudah melaut,” kata Herdiana kepada Radar Banten, Selasa (14/6).

Menurut Herdiana, nelayan yang telah melaut itu sebenarnya masih mengkhawatirkan cuaca yang belum bisa diprediksi. Nelayan itu takut jika cuaca buruk tiba-tiba terjadi di saat mereka melaut. Namun, ketakutan itu kalah oleh kebutuhan rumah tangga mereka.

“Mereka turun ke laut karena terdesak kebutuhan hidup. Jika tetap di rumah, anak dan istrinya bisa enggak makan,” ungkap Herdiana.

Mantan aktivis mahasiswa itu menyatakan, ketakutan para nelayan itu ada dasarnya karena Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak telah mengimbau para nelayan agar waspada dan berhati-hati ketika melaut. “Saran dari BPBD, para nelayan jangan melaut dulu kalau gelombang laut di Selatan masih tinggi. Bisa membahayakan keselamatan nelayan,” jelas Herdiana.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lebak Kaprawi membenarkan bahwa pasca-banjir rob, nelayan di Lebak Selatan libur melaut. Dia juga telah mendapatkan informasi bahwa saat ini sebagian nelayan itu mulai beraktivitas di laut. Karenanya, Kaprawi berharap, para nelayan tetap waspada. Cuaca bisa berubah setiap saat dan membahayakan keselamatan para nelayan.

“Para relawan siaga bencana di Lebak Selatan terus memberikan laporan terkait kondisi gelombang laut di Lebak Selatan,” ujarnya.

Kepala Bidang Kelautan dan Perikanan Tangkap pada Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Lebak Winda Triana menyebutkan, gelombang tinggi di perairan Lebak Selatan telah mengakibatkan harga ikan laut naik antara Rp5 ribu sampai Rp10 ribu per kilogram.

“Jumlah nelayan di Lebak Selatan dari Wanasalam sampai ke Cilograng sebanyak 2.800 orang. Ketika cuaca bersahabat, mereka tiap hari pasti melaut agar pasokan ikan tercukupi dan harganya bisa turun,” harapnya. (Mastur/Radar Banten)