JOGJAKARTA- Seperti sikap para pangeran, para rayi dalem tetap menentang sabda raja dan dawuh raja. Bahkan, putra-putri HB IX yang juga menentang dalam waktu dekat mengeluarkan pernyataan sikap bersama.

Menurut salah seorang putra HB IX, GBPH Yudhaningrat, sebelas pangeran keturunan HB IX sudah sepakat dan satu suara menyikapi keluarnya sabda raja dan dawuh raja. Dalam waktu dekat pernyataan mereka diserahkan kepada HB X melalui adik tertua dan adik kandung seibu, KGPH Hadiwinoto.

Gusti Yudha, panggilan GBPH Yudhaningrat menegaskan, sabda raja dan dawuh raja telah bertentangan dengan paugeran Keraton Jogja. Asisten sekretaris daerah bidang administrasi umum Setprov DIJ tersebut menyatakan sudah mengetahui isi sabda raja dan dawuh raja melalui tayangan televisi.

“Sudah coba dipahami, tidak hanya dengan otak, tapi juga dengan hati, tapi kok yo tetep ora gathuk (tidak sinkron, Red),” ujar Gusti Yudha di kediamannya kemarin (9/5).

Dia menambahkan, sabda raja dan dawuh raja tetap tidak bisa dicerna dengan akal sehat, termasuk dirasakan dengan hati. Dia mengibaratkan sabda raja dan dawuh raja seperti kereta yang sudah keluar dari rel. “Tidak hanya bahaya, tapi juga membahayakan,” tegasnya tanpa mau memerinci bahaya yang dimaksud.

Di tempat terpisah, Pengageng Tepas Dwarapura Keraton Jogja KRT Jatiningrat menyayangkan alasan keluarnya sabda raja sebagai wahyu atau dawuh dari Allah SWT. Menurut pria yang akrab disapa Romo Tirun itu, dalam Islam, wahyu hanya diberikan kepada para nabi melalui malaikat.

Adapun untuk raja, yang diterima bukan wahyu, tapi inspiring (wangsit). “Inspiring itu juga harus hati-hati. Inspiring itu tidak perlu diungkapkan. Kalau muncul tanggapan negatif, ya tanggung jawab beliau kepada Allah,” ungkap mantan Sekda Sleman tersebut.

Romo Tirun yang juga hadir di Sitihinggil Keraton Jogja saat sabda raja dan dawuh raja dibacakan menyampaikan, berbeda dengan yang dijelaskan HB X di Ndalem Wiranegaran kemarin, kali ini tidak ada penjelasan mengenai Keris Kanjeng Kyai Ageng Kopek dan Kanjeng Kyai Ageng”Joko”Piturun. “Berbeda dengan yang dijelaskan sebelumnya,” ujarnya.

Romo Tirun menegaskan, pihaknya hanya berpegang teguh pada paugeran yang terjaga sejak zaman leluhur hingga saat ini. Imam Masjid Rotowijayan tersebut juga mengingatkan kembali soal jumenengan atau naik takhta. Yakni, ada lima janji yang diucapkan Sultan HB X kepada leluhurnya atau Sultan HB IX.

Lima janji itu adalah tidak memiliki prasangka iri dan dengki kepada orang lain, tetap merengkuh orang lain meski orang lain tersebut tidak senang, tidak melanggar paugeran negara, lebih berani menyatakan kebenaran, dan tidak memiliki ambisi apa pun selain untuk kesejahteraan rakyat. (pra/laz/JPG/c5/end)