CILEGON – Tumpukan sampah di atas permukaan ruas jalan beton Pasar Kranggot Cilegon menjadi pemandangan bagi pembeli dan pengunjung pasar yang terletak di Kecamatan Jombang, Kota Cilegon, Jumat (14/8/2015).

Kepala Bidang Perdagangan dan Pembinaan Pasar pada Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Cilegon, Muhammad Satiri mengatakan pemandangan itu sudah berlangsung sejak lama, dan sudah menganggu kenyamanan pedagang maupun pengunjung pasar. “Kami juga bingung untuk persoalan sampah itu. Soalnya sampah itu terus berdatangan, terutama dari pedagang pasar,” ujarnya. Selain merusak pemandangan, sampah itu di lokasi itu bahkan telah menimbulkan bau yang tidak sedap.

Pantauan radarbanten.com, kondisi itupun diperparah dengan ketiadaan bak penampungan sampah, sehingga sampah itupun terkesan acak acakan hingga menjorok permukaan jalan. “Kita sudah sampaikan persoalan itu ke Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), jadi sepenuhnya tanggung jawab persoalan itu pada mereka,” tambahnya.

Terpisah, Kepala DKP Kota Cilegon Ujang Iing tidak menampik dengan adanya kondisi tersebut. Untuk menuntaskan persoalan itu, kata dia, pihaknya akan segera membuatkan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di lokasi tersebut pada anggaran perubahan tahun ini. “Saya ngga hafal persis nilai anggarannya (TPS), yang pasti modelnya seperti bak sampah biasa dengan kapasitas yang besar,” katanya.

Menurut pemantauannya, sampah di lokasi itu kerap menumpuk lantaran tak hanya berasal dari pedagang pasar saja, melainkan juga berasal dari masyarakat di sekitar pasar. “Gimana ngga penuh, semua masyarakat buang ke situ. Belum lagi pedagang pasar. Kita biasa angkut sampah di situ dua kali sehari. Malah kita ngangkutnya pake mini loader,” jelasnya.

Ia menerangkan, sejauh ini tidak ada rencana dari pihaknya untuk meningkatkan frekwensi angkut untuk mengantisipasi terjadinya penumpukan. “Bayangkan saja, truk pengangkut sampah kita terbatas. Belum lagi lamanya perjalanan ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Bagendung yang bisa makan waktu sampai 2 jam, tentu ini akan menjadi persoalan lagi kalau kita tambah,” tandasnya. (Devi Krisna)