Festival Burung Radar Banten Bird Song di Graha Pena Radar Banten, Sabtu (15/7).

Banyak kaum adam hobi main burung. Bukan cuma satu koleksi simpanan burungnya, tapi banyak. Bahkan puluhan burung sudah dimainkan para lelaki ini. Mereka tidak peduli dicibir, yang penting kepuasan hati dan hobi tersalurkan.

Soal biaya yang dikeluarkan jutaan bahkan puluhan juta rupiah sepertinya bukan masalah. Yang terpenting para lelaki ini benar-benar bisa merasakan kenikmatan memainkan burung-burung simpanannya itu.

Hobi main burung ini katanya sudah mewabah dimana-mana mulai dari kalangan naik angkot, naik motor bahkan naik mobil mewah telah menjadi candu bagi para lelaki penyuka burung. Burung-burung yang dimaksud itu adalah burung kicau. Ada berbagai jenis burung kicau yang biasa dilombakan misalnya, burung lovebird, kenari, cucak hijau, cucak jenggot, olibri, murai batu, dan masih banyak lagi.

Seperti yang terlihat pada Festival Burung Radar Banten Bird Song di halaman Graha Pena Radar Banten, Kota Serang, Sabtu (15/7). Ratusan pecinta burung dari berbagai wilayah di Banten seperti Serang, Balaraja, Tangerang, Cilegon dan Pandeglang, mengkopetisikan burung piaraannya.

Acara dimulai sekira pukul 10:30 WIB sampai pukul 17:00 WIB. Mereka sangat antusias melihat dan mendengar kicauan burung-burung andalannya. Ada yang sedang harap-harap cemas melihat burungnya diam saja tanpa melantunkan suara. Ada pula burung yang nangkring sedari tadi mengeluarkan suara teriakannya sehingga majikan atau pemiliknya tersenyum bahagia. Orang-orang yang menontonnya pun terbawa suasana riuh kicauan burung-burung itu yang membahana.

Beberapa kelompok dari berbagai wilayah terlihat tengah menunggu sesi berikutnya sambil melatih burung-burungnya agar tetap nyaring mengeluarkan kicauan. Hampir di beberapa sudut halaman Graha Pena Radar Banten diisi para kontestan. Beberapa pedagang seperti mi ayam, bakso dan siomay pun memanfaatkan keramaian dengan berjualan.

Soal lomba burung berkicau, penilaian ditentukan oleh juri secara terbuka dan langsung terlihat pemenangnya pada saat itu juga.

“Penilaian dibuat secara terbuka dan langsung karena menghindari praktik kecurangan,” kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Rajawali Banten Endang Rohendi kepada Radar Banten Online, Sabtu (15/7).

“Kompetisi burung untuk ajang jumpa dan persahabatan bagi para kicau mania. Mumpung masih suasana syawal juga, temanya halal bihalal,” imbuhnya.

Penilaian burung yang layak menjadi pemenang, kata Endang, dilihat dari cara kerja burung itu sendiri seperti kicauan, variasi, volume lagu, gaya kerja yang menonjol, dan pedas. Namun ternyata tidak mudah merawat burung agar berprestasi, butuh ketelatenan dan kesabaran. Alih-alih ingin burungnya berhasil berkicau kalau salah cara memeliharanya malah bisa sebaliknya.

Andri Koko (22), warga Serang, pernah mengalami gagal seting. Burung yang ia beli dari orang lain susah ditebak. Namun ia terus bersabar agar menemukan karakter burungnya. Apabila sudah menemukan karakter burung, membuat burung berprestasi jauh lebih mudah karena sudah tahu bagaimana merawatnya.

Ia sangat menyukai burung sejak 2012 silam. Dana. yang ia keluarkan demi memuaskan hobinya itu telah habis hingga 100 juta rupiah. Koleksi burungnya saat ini pun bervariasi, ada sekitar 30 jenis burung yang berbeda-beda. Tetapi, Andri lebih menyukai burung kenari mengingat awal mula mengenal burung adalah burung kenari.

Perawatannya sendiri sebenarnya mudah sekali. Pakannnya bisa mencapaj 500 ribu rupiah setiap minggunya. “Sedangkan bagaimana trik merawat burung itu, ya pokoknya harus pakai hati,” ucapnya.

Festival Burung Radar Banten Bird Song di Graha Pena Radar Banten, Sabtu (15/7).

Ia mengaku benar-benar senang menekuni hobi ini karena akan sering bertemu dengan komunitas kicau burung lainnya sehingga membuat dia merasa lebih menikmati. “Selain itu, bermain burung itu membuat hati saya lebih puas bisa menyalurkan apa yang saya sukai,” lanjutnya.

Untuk perawatan, tidak mudah memelihara burung dari awal sampai berprestasi.

Menurut Endang Rohendi, yang juga hobi mengoleksi burung kicau ini, harus selektif melihat dan menelaah karakter burung. “Contoh Lovebird ini dicari tarikan panjang, istilahnya ngekek-nya yang panjang, terus bisa anteng ditangkringan, yang tidak takut melihat orang. Tentu harus ada proses kita harus menjinakan dulu agar tidak takut melihat orang, caranya meyesuaikan burung dengan keramaian manusia. Terus dengan cara dilatihnya mandi pagi, mandi malam, dijemur, nah seninya itu ada di dalam prosesnya,” ucapnya sambil tertawa.

Intinya, kata dia, sejak dari awal sampai menjadi burung berprestasi benar-benar tidak gampang, walaupun keturunannya dari burung berprestasi. Membutuhkan ketelatenan dan kesabaran dalam memelihara burung kicau mencakupi semua jenis burung terutama burung yang sengaja untuk diikutsertakan perlombaan.

“Kalau pun juara tapi di tangan orang lain belum tentu juara, karena pindah tangan saja burung itu akan bersikap berbeda, suasananya itu beda, maka butuh kesabaran, ketelatenan dan kita harus tahu karakter burung. Kalau sudah tahu setingnya semua bisa teratasi dan burung pun bisa berprestasi,” pungkasnya. (Anton Sutompul/ antonsutompul1504@gmail.com).