SERANG – Pembangunan rumah peristirahatan (villa) milik warga Korea di Kampung Rancawulung, Desa Citasuk, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang disoal warga setempat. Karena, saat pengeboran di tanah seluas 2,5 hektare itu keluar air panas yang mengalir ke persawahan yang mengakibatkan sejumlah ikan di sungai mati.

Protes warga itu disampaikan oleh warga melalui unjuk rasa di lokasi pembangunan yang sudah dipagar tembok setinggi dua meter. Tepatnya di Jalan Raya Palima-Cinangka, Rabu (5/3). Unjuk rasa pun berhenti setelah kepala desa setempat menemui mereka dan mengajak musyawarah.

Salah satu warga Desa Citasuk, Satria Winata meminta agar air panas itu sebelum keluar ke persawahan warga agar ditampung dulu, supaya tidak mengganggu tanaman padi dan ikan peliharaan. “Jangan dibuang ke luar (area vila), kalau mau dibuang minimal harus dingin dulu,” katanya saat ditemui Tangerang Ekspres (Radar Banten Group) di lokasi pembangunan vila.

Ia mengatakan, pengeboran itu sudah dilakukan sejak tiga hari lalu. Pengeboran itu dilakukan sedalam 40 meter dengan jumlah titik rencananya sebanyak empat titik.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, di daerah itu memang banyak sumber air panas. Sejumlah titik tanah meski bukan hasil pengeboran itu mengeluarkan air panas. Air panas itu pun mengalir melalui selokan-selokan menuju persawahan. Hanya volumenya tak sebesar hasil pengeboran.

Kepala Desa Citasuk Muhaemin mengatakan, sudah tidak ada masalah dengan warga terkait air panas yang keluar dari villa. Permintaan warga agar sebelum air panas itu keluar agar ditampung dulu akan disampaikan ke pemiliknya.

“Sudah klir,” ujarnya seraya mengatakan air panas itu nantinya akan digunakan untuk mengairi kolam renang. Menurut dia, pembangunan villa itu sudah lengkap izinnya. “IMB (izin mendirikan bangunan)-nya sudah ada,” ujarnya. (SUTANTO)***