Suasana kemeriahan pembukaan. Seleksi Tilawatil Quran (STQ) Nasional XXIV di Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara, Sabtu (15/7) malam. Foto: Dok. Kemenag

TARAKAN – Pembukaan Seleksi Tilawatil Quran (STQ) Nasional XXIV di Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara, Sabtu (15/7) malam berlangsung meriah. Ribuan masyarakat Kota Tarakan dan sekitarnya tumpah ruah memadati venue utama pembukaan, Islamic Center Masjid Baitul Izza.

STQ Nasional XXIV ini dibuka oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Sebelumnya, Menag melantik Dewan Hakim yang akan bertugas sebagai juri STQ Nasional. STQ Nasional di Kota Tarakan ini  diikuti 460 orang peserta dari 34 provinsi.

Pembukaan STQ Nasional ini menyajikan tarian kolosal yang bercerita tentang Umar Bin Khatab yang dimainkan 150 Siswa dan Siswi se Kota Tarakan. Tampak hadir Gubernur Kalimantan Utara Irianto Lambrie beserta jajarannya, Perwakilan Pemerintah Provinsi masing-masing kafilah STQ, Plt Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin, Pejabat Eselon II Kementerian Agama, Kakanwil Kementerian Agama se-Indonesia, serta ofisial dan peserta.

Pada kesempatan itu Menag berpesan untuk terus menjaga harmonisasi sosial dan kerukunan hidup beragama. Menurutnya, harmoni dan kerukunan merupakan fundamen persatuan dan kesatuan bangsa.  “Kita perlu menghindarkan bersama segala potensi yang menggiring masyarakat ke arah konflik, terlebih konflik yang mempunyai sangkut paut dengan isu – isu agama,” kata Menag seperti dilansir Kemenag.

“Agama Islam yang dianut mayoritas bangsa Indonesia adalah Islam yang rahmatan lil alamin. Agama yang mengajarkan toleransi, baik perbedaan-perbedaan antar internal umat islam maupun antar pemeluk agama yang berbeda,” sambungnya.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, bersama Gubernur Kalimantan Utara Irianto Lambrie, Plt Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin membuka STQ Nasional XXIV.

Menag mengajak masyarakat untuk lebih memahami, mendalami, dan mengamalkan empat pilar kebangsaan, yaitu: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Menututnya, empat pilar itu bukan alat mengekang, mengintimidasi dan mendiskriminasi, tapi justru memberikan jaminan  kepada warga negara yang ingin menjalankan ibadah sesuai agamanya.

“Saya yakin, jika tatanan kebangsaan dan kemasyarakatan kita yang kondusif dapat terus kita pelihara, dengan izin Allah, kita akan mampu membangun hari esok yang lebih baik dan menyelamatkan Negara Republik Indonesia dari segala bahaya perpecahan dan krisis nilai yang berpotensi melanda masyarakat  di era globalisasi ini,” pesannya.

Menag juga menyampaikan penghargaan dan apresiasi  kepada tuan rumah, khususnya Gubernur Kalimantan Utara beserta jajarannya dan Pemkot Tarakan,  atas dukungan  dan kerjasama dalam penyelenggaraan STQ Nasional. “Semoga kegiatan STQ berlangsung dengan aman, tertib, lancar dan sukses,” harapnya.

Kepada qori, qoriah, hafidz, hafidzah, serta para pimpinan khafilah, dewan hakim, dan ofisial, Menag  mengajak untuk menjaga tujuan mulya STQ. “Suasana aman dan  damai di provinsi yang mempunyai motto Benuanta, sesungguhnya merefleksikan potret kehidupan kebangsaan yang kita dambakan terwujud di seluruh persada nusantara,” ujarnya.
STQ Nasional XXIV tahun 2017 berlangsung mulai dari 16 – 22 Juli 2017. Venue utama dipusatkan di Islamic Center Masjid Baitul Izza Kota Tarakan. Venue lainnya di Masjid Daarussa’adah, Masjid At-Taqwa, dan Masjid al-Ma’arif. (Kemenag/Aas Arbi)