Pil PCC Ternyata Sudah Makan Korban di Cilegon

Bentuk dan penampakan Pil PCC yang dijual bebas seharga Rp 25 ribu per 20 butirnya. (istimewa)

CILEGON – Obat paracetamol caffein carisoprodol (PCC) ternyata sudah memakan dua korban di Kota Cilegon. Saat ini, dua korban itu masih dalam penanganan tim medis karena masih dalam pengaruh obat yang sempat menggegerkan warga Kendari, Sulawesi Tenggara.

Tim Berantas Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Cilegon Wempi Wijaya mengatakan, sebelum kasus obat PCC mencuat di Kendari, di Kota Cilegon sebenarnya sudah ada korban penyalahgunaan PCC. Namun, tidak mencuat seperti di Kendari karena memang jumlah korbannya sedikit bila dibandingkan Kendari yang mencapai 86 orang.

Satu kasus PCC di Kota Cilegon ditemukan di wilayah Kecamatan Pulomerak. Korbannya hingga saat ini masih terpengaruh obat tersebut. “Empat bulan lalu kita sudah temukan kasus ini (PCC), korban menjadi gila dan saat ini belum sembuh. Kita juga masih melakukan penyelidikan,” katanya seraya enggan menyebutkan identitas korban.

Selain di Pulomerak, Wempi mengungkapkan di wilayah Kota Cilegon lain juga ditemukan satu kasus lagi. Korbannya merupakan korban pemerkosaan. Sebelum diperkosa, diduga pelaku mencekoki korban dengan meminumkan obat PCC. “Kemudian setelah tidak sadar diperkosa. Sampai sekarang korban masih terpengaruh obat itu,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Wempi menjelaskan, pil PCC bukan narkoba jenis flakka atau mariyuana sintetis yang pernah juga menjadi tren di New York. PCC merupakan obat keras dan salah satu di antaranya dipakaikan untuk penderita penyakit jantung. “Sebenarnya, efek PCC ini tidak terlalu berbahaya. Tapi kalau diminum dicampur dengan obat lain seperti tramadol dan eximer ini efeknya akan jadi berbahaya, bahkan bisa membuat penggunanya sakit jiwa,” jelasnya.

Untuk menghindari penyalahgunaan obat maupun peredaran obat ilegal, Wempi meminta peran aktif seluruh komponen baik instansi pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat sehingga peredaran PCC dapat diminimalkan. “Hari ini (kemarin-red) kita juga sedang berkoordinasi dengan Kesbangpol, terkait pengawasan obat-obatan tersebut. PCC adalah obat yang bersifat relaksan, sedangkan tramadol adalah obat analgetik yang bisa meredakan rasa sakit,” tandasnya.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Cilegon Soeparman mengatakan, pihaknya akan melakukan pengawasan peredaran obat-obatan yang sudah mulai meresahkan masyarakat. Bila disalahgunakan, obat tersebut cukup membahayakan bahkan dapat menimbulkan kematian. “Kita akan awasi apotek-apotek. Saat ini kita sedang persiapan dulu untuk pengawasannya,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Cilegon Arriadna mengatakan, kewenangan pengawasan obat di Cilegon sebetulnya merupakan tanggung jawab Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Namun, jika BPOM akan melakukan pengawasan ia pasti akan dilibatkan. “Kalau peredaran obat penenang di Cilegon perlu dilihat juga apotek yang menjualnya berizin atau tidak, kami akan berkoordinasi dengan BPOM untuk mengawasi apotek-apotek yang ada di Cilegon,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Satuan Reserse Narkoba (Resnarkoba) Polres Cilegon AKP Dedi Hermawan mengungkapkan, peredaran PCC di Kota Cilegon akan menjadi perhatian. Namun, dia belum menerima laporan ada warga Cilegon yang menjadi korban PCC. Kata Dedi, pihaknya hanya  menemukan warga Cilegon menggunakan obat penenang berupa eximer dan tramadol. “Dua bulan ini (Agustus dan September) kami melakukan penindakan pengguna eximer dan tramadol,” ujarnya singkat.

Saat dikonfirmasi terpisah, Kabid Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Banten Wahyu Santoso mengaku belum mendapatkan laporan dari Dinkes Kota Cilegon maupun kabupaten kota lain terkait temuan kasus penyalahgunaan obat PCC di Banten.

“Kami (Dinkes Banten) belum mendapatkan laporan. Secepatnya kami akan melakukan monitoring ke daerah yang sudah terbukti terjadi kasus penggunaan obat PCC,” kata Wahyu kepada Radar Banten.

Wahyu menambahkan, semua kabupaten kota di Banten rawan dijadikan tujuan peredaran obat PCC yang menyasar para pelajar dan anak muda, sebab Banten selama ini sering dijadikan tempat transit peredaran narkoba. “Kami sangat prihatin bila kasus ini terjadi juga di Banten, kami imbau para orangtua lebih ketat lagi mengawasi anak-anak agar tidak mengonsumsi obat PCC,” imbaunya. (BRP-Deni S-Alwan/RBG)