Menag Lukman Hakim Saifuddin bersama ribuan umat Islam hadiri Puncak Hari Santri Nasional 2017 di Semarang. Foto: Kemenag

SEMARANG – Kumandang Shalawat Kebangsaan oleh puluhan ribu umat Islam mewarnai puncak Hari Santri Nasional Tahun 2017  yang memadati Lapangan Pancasila Simpang Lima Kota Semarang, Sabtu (21/10) malam.

Shalawat yaa ‘alal wathan, yang digemakan diiringi tabuhan rebana, menggetarkan Lapangan Pancasila yang berada di pusat Kota Semarang. Semuanya bersuka cita dalam kumandang shalawat.

Acara itu dihadiri Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Gubernur, Walikota Semarang, dan pejabat di lingkungan Kementerian Agama, dan unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah  Provinsi Jawa Tengah dan Kota Semarang. Tampak hadir di panggung utama para kyai, habaib, dan tokoh Islam lainnya.

Pada kesempatan itu, Menag menyampaikan bahwa pemerintah sadar betul bahwa, kontribusi santri kepada bangsa dan negara ini sungguh luar biasa. Penetapan hari santri adalah wujud pengakuan juga penghargaan negara kepada kaum santri atas kiprahnya menjaga dan merawat NKRI.

Kata Menag, hal itu menjasi poin pertama tentang alasan ditetapkannya Hari Santri Nasional oleh pemerintah. Sementara point kedua, selain pengakuan dan penghargaan negara kepada santri, maka penetapan hari santri sesungguhnya dimaksudkan sebagai penegasan peneguhan tanggungjawab santri terhadap negara.

“Jadi dengan adanya hari santri, kaum santri itu dikukuhkan untuk memiliki kesadaran yang tinggi akan tanggung jawabnya terhadap eksistensi dan masa depan bangsa negara kita tercinta. Maka dalam kesempatan baik ini, saya ingin memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh apa itu santri, kita perlu bangun persepsi bersama sehinga punya kesepahaman apa yang dimaksud santri dan mengapa negara menetapkan hari santri itu,” kata Menag sebagaimana dilansir Kemenag.

Dikatakannya, santri awalnya adalah kaum yang memang  berkesempatan menimba ilmu di pondok pesantren yang kemudian disebut santri, dan ciri pontren di seluruh Nusantara ini setidaknya dilihat pada tiga aspek. Pertama, dimanapun pontren yang ada di Nusantara, maka Islam yang diajarkan pontren adalah Islam yang menebarkan rahmatal lili alamin, Islam yang dikenal dengan Islam moderat (wasathiyah).

Menurutnya, di manapun pontren selalu mengajarkan paham keagamaan dengan cara mensinergikan dua pendekatan yang oleh beberapa kalangan seringkali diperhadapkan yaitu pendekatan tekstual, dan kedua, bagaimana nalar didudukkan secara proporsional dalam teks yang ada.

“Jadi kemampuan menggabungkan originalitas yang bersumber dari kitab turats yang jadi  rujukan lembaga keislaman di dunia, ini yang tidak terlepas dari teks Alquran dan Hadits lalu dikombinasikan dengan kemampuan nalar, dengan membaca perkembangan zaman sesuai konteksnya,” katanya.

“Dua hal ini selalu saling melengkapi,  bukan diperhadapkan, bukan saling menegasikan, ini penting disampaikan, ini warisan yang ditegakkan ulama terdahulu dengan kearifannya yang luar biasa, mereka mensinergikan dua pendekatan itu, dan itu yang menjadi tradisi keilmuan lalu,” imbuh Menag.

Kedua, ciri pontren adalah penilaianya terhadap keragaman. Ini ciri menonjol dari pontren, santri di manapun berada, umumnya cukup bijak dalam mensikapi keragaman, karena selama di pontren mereka terbiasa menghadapi keragaman.

Selan itu, ilmu yang dikaji di pontren sendiri, begitu ragam pandangan yang dikaji santri, tidak ada pandangan tunggal selain pandangan yang sifafnya qat’i.

“Itulah yang jadi ciri bahwa santri itu tidak  mudah kagetan, terheran-heran dengan hal yang berbeda, dan ini yang jadi santri itu harus berupaya memperkuat persatuan umat. Karenanya,  setiap kita dituntut bagaimana berupaya, bagaimana menjaga persatuan dan kemauan menghormati keragaman pada diri dan pihak lain,” ungkapnya.

Ciri ketiga, di manapun santri berada, pastilah ia orang yang cintanya ke Tanah Air luar biasa. Tidak ada santri yang tidak cinta kepada Tanah Airnya. Tanah Air tidak bisa dipisahkan  karena di Tanah Air-nyalah jadi tempat persemaian agar rahmat itu mewujud di alam semesta ini. (Dodo/Kemenag/Aas)

BAGIKAN