SERANG – Provinsi Banten merupakan provinsi yang memiliki bagitu banyak keragaman jenis kesenian. Mulai dari seni tradisi hingga kesenian modern. Maka dari itu, Banten sering dianggap sebagai provinsi yang patut memiliki wadah untuk menaungi komunitas seniman.

Di Jakarta, misalnya saja kita mengenal Dewan Ksenian Jakarta (DKJ), ada juga Dewan Kesenian Lampung (DKL), Dewan Kesenian Jawa Timur dan sebagainya. Di Banten sendiri sudah terbentuk Dewan Kesenian Cilegon, Dewan Kesenian Tangerang Selatan, dan Dewan Kesenian Kota Tangerang. Sementara ini daerah seperti Lebak, Pandeglang, dan kabupaten/kota Serang belum memiliki dewan kesenian.

Hal ini mengemuka dalam dialog yang digelar Forum Seniman Banten (FSB) di Rumah Dunia, dengan tema “Pentingkah Dewan Kesenian Banten?” dengan pembicara M Rois Rinaldi (Penyair), Toto ST Radik (Penyair), Wowok Hesti Prabowo (Sastrawan) dan Gubernur Banten Rano Karno. Acara ini merupakan rangkaian dari kegiatan Karnaval Seni dan Halal Bi Halal Seniman Banten yang berlangsung dari tanggal 1-5 Agustus 2015 di Rumah Dunia, Komplek Hegar, Ciloang, Cipocok Jaya, Kota Serang.

Salah satu pembicara dalam dialog ini, M Rois Rinaldi menganggap dewan kesenian perlu sebagai jembatan antara gerakan kesenian para seniman dan pemerintah. “Karena seperti kita tahu, senimna ini ego-nya tinggi sekali namun kurang menguasai manajemen. Makanya perlu adanya dewan kesenian,” terang penyair Banten yang namanya moncer di kalangan penyair Malaysia dan Singapura ini, Senin (3/8/2015).

Padahal, menurut keterangan Penyair Toto ST Radik sebelumnya pernah terbentuk di Banten. Namun demikian resistensi seniman terhadap DKB, kata Toto sangat tinggi kala itu. Toto mencatat pada tahun 2004 DKB diketuai oleh Yoseph Iskandar.

Maka dari itu, sebagian seniman kemudian membuat Forum Kesenian Banten (FKB). “Saya melihat terjadi perpecahan pengurus DKB dari dalam, pada perkembangan selanjutnya saya tidak tau DKB ini masih ada atau tidak,” katanya.

Lebih lanjut keberadaan DKB menurut Toto harus juga ditopang oleh adanya lembaga pendidikan kesenian seperti institut kesenian dan keberadaan gedung kesenian Banten. “Perlu ditunjang, jika kita berorientasi ke depan menjadikan Banten sebagai provinsi yang berorientasi budaya. Bukan sekadar tujuan hari ini saja,” katanya.

Sementara itu, Sastrawan yang terkenal dengan gerakkan buruh Tangerang, Wowok Hesti Prabowo, memberikan gambaran ideal sebuah dewan kesenian. Posisi dewan kesenian sendiri menurut Wowok dibentuk oleh pemerintah sebagai mitra pemerintah dalam mengelola kesenian. “Tidak ada alasan dewan kesenian tidak dibuat. Kalau persoalan resistensi nantinya, sama saja halnya dengan pertanyaan ‘pentingkah berumah tangga’. Kita tidak bisa membatalkan rumah tangga karena khawatir nanti anak kita menjadi nakal, bukan?”

Lebih dari itu, Sastrawan yang terkenal dengan gerakkan Sastra Buruh ini mengingatkan agar para seniman harus legowo jika nanti DKB terbentuk. “Seniman harus legowo. Kalau bisa kita urus bersama-sama. Yang penting pembentukannya transparan. Ada pansel (panitia seleksi) nya, yang terpilih harus paham manajemen kesenian dan kebutuhan seniman. Jangan cuma menganggap ini sebagai proyek untuk komunitasnya,” kata Wowok.

Menurut Wowok, saat ini merupakan momen yang tepat untuk membentuk DKB. “Mumpung Gubernurnya seniman. Kalau tidak ada jejaknya (pembentukan DKB), buat apa ada Bang Rano,” ujar Wowok kepada Gubernur Banten Rano Karno dengan seloroh.

Menangapi hal ini, Gubernur Banten Rano Karno mengaku gelisah dengan kondisi Banten, selain belum memiliki DKB, Banten juga belum memiliki museum provinsi. “Makanya saya akan bangun Museum Provinsi Banten dan Museum Krakatau. Sebagai seniman saya tegaskan pembentukan DKB lebih penting dari sekadar pembangunan fisik,” ujarnya.

Namun demikian, Rano meminta kepada seniman yang hadir dalam acara tersebut untuk segera berkoordinasi dengan daerah kabupaten/kota di Banten yang belum memiliki dewan kesenian seperti Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, dan Kabupaten/Kota Serang, serta Kabupaten Tangerang. “Di Banten ini belum ada representasi dewan kesenian. Ini yang perlu diperhatikan dulu sebelum lebih lanjut membentuk DKB.”

Meski mendukung sepenuhnya pembentukkan DKB, Rano tidak bisa memastikan kapan DKB akan terbentuk secara resmi di Banten. “Realisasinya tergantung seniman. Pemerintah tidak bisa intervensi. Yang penting seniman bisa mempertanggungjawabkan keuangannya jika DKB terbentuk,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Provinsi Banten, Ali Fadillah mengatakan Banten sebenarnya sudah memiliki DKB. Hanya saja, DKB saat ini tidak aktif alias tanpa kegiatan dan kepengurusan. “Dewan Kesenian Banten sebenarnya tidak bubar. Hanya saja tidak aktif. Tinggal diisi saja oleh teman-teman seniman. Mekanismenya tinggal adakan rekrutmen, undang yang paham manajemen, yang jago seninya. Kita (Disbudpar) sudah siapkan kegiatannya,” kata Ali.

(Wahyudin)

BAGIKAN