BILA beberapa minggu terakhir cuaca terasa menjadi lebih panas daripada biasanya, ternyata hal tersebut disebabkan karena Juli sampai Agustus tahun ini menjadi musim kemarau panjang yang terjadi pada beberapa titik wilayah di dunia.

Dilansir International Business Times dari U.S. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), Senin (24/8/2015), meskipun periode kemarau panjang terjadi dari Juli sampai Agustus, bulan Juli menjadi bulan di mana intensitas iklim panas meningkat sebanyak tiga kali lipat. Bahkan, tahun 2015 diklaim menjadi tahun dengan kondisi cuaca sangat panas selama 135 tahun terakhir sejak pengamatan iklim secara rutin dimulai pada tahun 1880.

Para ilmuwan peneliti iklim Bumi di NOAA mengungkap, temperatur rata-rata Bumi pada tahun ini berada pada titik 1,53 derajat Fahrenheit yang digabung dari cuaca tanah dan air di Bumi. “Temperatur tersebut kami nilai cukup tinggi sejak pengamatan iklim yang telah dilakukan sejak 1880. Jika persentase iklim tersebut terus meningkat, itu akan mengalahkan rekor temperatur bumi 1,24 derajat Fahrenheit yang terjadi di abad lalu, dimana menjadi suhu terpanas pada saat itu,” jelas tim peneliti NOAA.

Meskipun begitu, NOAA menjelaskan bahwa secara norma Juli memang menjadi bulan yang `panas` dalam setahun di seluruh wilayah Bumi.

Hal tersebut secara ilmiah dijelaskan karena terjadinya peristiwa badai El Nino yang terjadi di beberapa titik samudera di daerah tropikal Pasifik. Bahkan, peneliti mengungkap bahwa tahun ini, intensitas El Nino semakin meningkat dan menjadi lebih kencang, sehingga membuat suhu di beberapa titik daerah tropikal menjadi panas.

“Kami bisa pastikan bahwa 2015 menjadi tahun terpanas dalam sepanjang masa, kami telah melakukan penelitian iklim di setiap bulannya,” ungkap juru climatologist NOAA, Jake Crouch.

Mengingat tahun ini merupakan tahun dengan cuaca paling panas, tak menutup kemungkinan bahwa teori global warming kembali menyeruak. Sebelumnya, NASA mengumumkan prediksinya lewat sebuah dataset bahwa bumi akan mengalami perubahan iklim besar-besaran dalam waktu 85 tahun lagi, tepatnya di tahun 2100.

Menurut para ilmuwan yang sedang meneliti fenomena ini, hal tersebut disebabkan oleh lapisan karbondioksida di atmosfer bumi yang nantinya akan mencapai angka yang sangat tinggi, yakni 935 ppm (parts per million). Untuk saat ini, lapisan karbondioksida tersebut sedang berada di angka 400 ppm.

Jika nanti prediksi yang diumumkan benar terjadi, sebagian besar wilayah bumi akan mengalami perubahan iklim drastis yang menjadi sangat panas. Bahkan nantinya di wilayah Afrika, India dan Amerika Selatan, temperatur hariannya bisa mencapai angka 45 derajat Celcius. (le/rbc)

BAGIKAN
Just another simply photojournalist