Sidang Kasus Pembunuhan Sadis Eno, RAL Divonis 10 Tahun

Sidang Lanjutan Pembunuhan Eno Parihah

Sidang Eno
Terdakwa kasus pemerkosaan disertai dengan pembunuhan, Rahmat Alim (RAL) mendengarkan pembacaan vonis Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tangerang, Kamis (16/6). (Foto: Hendra Saputra)

TANGERANGTerdakwa kasus pemerkosaan yang disertai pembunuhan Eno Parihah (18), Rahmat Alim atau RAL (15) divonis 10 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Klas I A Tangerang, Kamis (16/6).

Majelis hakim menilai RAL secara sah dan meyakinkan terlibat dalam aksi pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Eno, warga Kecamatan Lebakwangi, Kabupaten Serang. “Menjatuhkan vonis 10 tahun penjara,” kata ketua majelis hakim RA Suharni di hadapan terdakwa dan kuasa hukumnya.

Dalam amar putusannya, majelis hakim menyebut terdakwa terbukti melanggar pasal 340 ayat 1 ke 1 primer Junto 55 junto UU No 11 Tahun 2012 KUHP tentang Sistem Peradilan Anak. Vonis yang dijatuhkan majelis hakim ini sama dengan tuntutan yang diajukan jaksa penuntut umum (JPU). Sebelumnya, jaksa menuntut RAL dengan hukuman 10 tahun penjara.

Majelis hakim juga menolak rekomendasi Pembimbing Kemasyarakatan (PK) Balai Pemasyarakatan (Bapas) yang menginginkan agar terdakwa menjalani pembinaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA).

“Dikhawatirkan akan memberikan dampak negatif bagi lingkungan sekitarnya (LPKA-red). Oleh karena itu majelis lebih tepat menjatuhkan hukuman dengan merampas kebebasan berupa pidana penjara di dalam lembaga pemasyarakatan anak,” katanya.

RA Suharni mengatakan, yang memberatkan terdakwa yakni perbuatannya tergolong tindak pidana berat dan sadis serta di luar perikemanusiaan karena menghilangkan nyawa orang lain.

Dampaknya membuat keluarga korban jadi syok. Selama proses persidangan, terdakwa yang masih berstatus pelajar ini tidak mengakui perbuatannya. Terdakwa juga memberikan keterangan yang berbelit-belit. Selain itu, terdakwa tidak menyesali perbuatannya sehingga tidak ada hal yang meringankan pelaku. “Anak tidak menyesal. Keadaan yang meringankan, majelis menilai tidak ada. Dengan demikian, majelis hakim sependapat dengan penuntut umum,” bebernya.

Mendengar putusan ini, terdakwa yang diberikan kesempatan untuk berdiskusi dengan tim kuasa hukum, akhirnya memutuskan untuk banding atas putusan majelis hakim tersebut. “Saya mengajukan banding,” ujar RAL.

Sementara JPU dari Kejari Tangerang, M Ikbal bersama timnya menyatakan pikir-pikir. Selama sidang berlangsung, ibunda Eno, Mahfudoh, tak kuasa menahan air mata setiap kali majelis hakim membacakan kronologi tentang cara terdakwa membunuh korban. Bahkan, mereka terus menyoraki terdakwa.

Usai sidang, pihak keluarga korban mencoba mengejar terdakwa yang mendapat kawalan ketat puluhan anggota kepolisian hingga luar gedung PN. Mereka tidak terima dengan vonis yang dijatuhkan hakim kepada RAL yang hanya vonis 10 tahun penjara.

Suasana di luar gedung menjadi mencekam ketika mobil tahanan yang berisi RAL pergi meninggalkan gedung PN. Ratusan massa yang sejak sidang dimulai pukul 10.00 WIB sudah melakukan aksi demonstrasi, mencoba menyerang mobil tahanan yang akan keluar gedung PN menuju Lapas Anak.

Sidang EnoRatusan polisi yang berjaga di depan gedung PN langsung membentuk pagar betis untuk menghalau massa yang mulai emosi pasca mendengar vonis hakim. Buntutnya, massa semakin anarkistis dengan melempari polisi dan mobil tahanan dengan batu, botol, serta benda-benda tumpul lainnya. Bentrokan antara massa pendemo dengan polisi tak terelakkan. Sejumlah demonstran terlibat saling pukul dan saling lempar dengan petugas kepolisian.

Setidaknya, empat orang diamankan oleh petugas. Sedangkan satu anggota polisi mengalami luka di bagian telinga hingga mengeluarkan darah akibat lemparan batu dari pendemo.

Usai negosiasi antara polisi dan koordinator aksi, bentrok akhirnya mereda. Keempat pendemo yang sebelumnya diamankan akhirnya dilepas kembali oleh polisi setelah mendapat jaminan dari pihak keluarga Eno.

Pantauan wartawan, kericuhan sempat membuat jalan di depan gedung PN Tangerang macet. Polisi harus mengalihkan arus lalu-lintas yang tadinya dua lajur, menjadi satu lajur. Para pendemo yang mayoritas keluarga korban itu akhirnya pulang menuju Serang dengan menumpang sejumlah mobil pikap.

Pembunuhan terhadap Eno Parihah (18) karyawati PT Polyta Global Mandiri (PGM) yang juga warga Kecamatan Lebakwangi, Kabupaten Serang, ini, terjadi di Kompleks Pergudangan 8, Blok DV, RT 01 RW 06, Kelurahan Dadap, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, Jumat 13 Mei 2016 lalu.

Pembunuhan sadis dengan memasukkan gagang cangkul ke dalam kemaluan korban dilakukan oleh tiga pelaku. Mereka adalah tersangka Imam Hapriadi alias Bogel dan dua temannya yaitu Rahmad Arifin alias Dayat serta RAL yang telah mendapat vonis dari majelis hakim. (Hendra Saputra/Radar Banten)