CILEGON – Sosialisasi antara PT Perusahaan Gas Negara (PGN) kepada ratusan warga RW 04 dan RW 06 komplek Perumahan Bumi Panggungrawi Indah (BPI) Cilegon, Jumat (9/10/2015) malam, dihujani pertanyaan oleh sejumlah warga. Warga mengaku masih khawatir dengan potensi bahaya yang mengancam keselamatan mereka terkait dengan rencana PGN yang akan menawarkan jasa pemasangan pipa gas rumah tangga mengaliri tiap rumah warga.

“Kami tidak mau dijadikan kelinci percobaan, karena setahu kami gas alam itu berbahaya. Apalagi, PGN juga tidak dapat memberikan asuransi apapun terhadap harta benda maupun keselamatan kami bila terjadi sesuatu akibat ada kebocoran gas,” ujar Edi Warsono, salah seorang warga RW 06.

Langkah sosialisasi itu, menyusul adanya rencana PGN untuk melaksanakan program pemasangan gas untuk rumah tangga yang merupakan program dari pemerintah pusat. Namun belakangan, pemasangan pipa jaringan gas dilingkungan perumahan itu menuai protes warga setempat.

Warga merasa dirugikan karena pihak pelaksana kontruksi merusak jalan lingkungan pemukiman mereka tanpa melalui sosialisasi terlebih dulu. “Kami berharap sosialisasi ini akan dilakukan lagi, karena saat ini saja tidak semua warga yang hadir,” katanya.

Sementara itu, Camat Jombang, Agus Ariyadi yang hadir pada kesempatan itu beranggapan program gas untuk rumah tangga itu akan sangat menguntungkan warganya sebagai pengguna, kendati PGN tak memberikan jaminan keselamatan dalam bentuk asuransi seperti yang dimohonkan warga.

“Memang benar belum ada asuransi. Tapi sebagai contoh, kalau kita menggunakan kompor minyak tanah, kita beli minyak tanah lalu terjadi ledakan. Masak pedagang minyak tanah yang disalahkan? itu kelalaian dari pribadi. Tapi menurut PGN, tadi mereka melihatnya (asuransi) itu sebagai salah satu masukan yang baik,” katanya.

Informasi yang dihimpun radarbanten.com, untuk lingkungan perumahan itu PGN menyediakan kuota instalasi pipa gas untuk 144 Kepala Keluarga. Pada bagian lain, Area Head PT PGN Area Cilegon, Eva Amelia menolak memberikan keterangan kepada awak media pada saat itu. Eva lebih menghindar dari serbuan awak media, dengan meninggalkan lokasi sosialisasi itu secara diam-diam. (Devi Krisna)

BAGIKAN