Kasus pencemaran sungai Citarum hingga kini masih terus berlangsung. Tak sedikit para pengusaha nakal, membuang limbah mereka ke sungai, tanpa melalui proses IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah).

Menyikapi hal ini, Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan bakal memberikan sanksi tegas. Aher-sapaannya- tak segan bakal membawa ke ranah hukum. “Pelakunya bisa kita pidanakan,” jelas Aher, Sabtu (16/9), dilansir RMol Jabar (Jawa Pos Grup).

Diungkapkan Aher, sebelumnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menggelar rapat evaluasi pelaksanaan gerakan Citarum Bestari, Jumat (15/09).

“Intinya lebih pada koordinasi dan evaluasi terkait dengan program Citarum Bestari dan pemantapan langkah-langkah kedepan yang akan dilakukan,” kata Aher.

Aher menyatakan akan mendatangi satu-persatu industri yang berdekatan dengan aliran sungai Citarum, guna memastikan IPAL dari setiap perusahaan berjalan dengan baik.

”Tadi saya menekanakan supaya para pihak seperti Kejaksaaan, TNI dan Polri segera menentukan langkah-langkah, panggil satu-persatu industri atau datangi satu-persatu kemudian ketika kedapatan melanggar bikin komitmen untuk tidak melanggar,” ujarnya.

Menurut pantauannya, di samping ada industri yang telah menggunakan IPAL nya dengan baik, ternyata masih ada pula dari mereka yang IPAL nya tidak digunakan alias hanya untuk memenuhi persyaratan semata.

“Nah, yang terjadi adalah ada industri yang punya IPAL dan sudah digunakan dengan semestinya, ada juga industri yang punya IPAL tapi tidak digunakan alias IPAL-IPALan,” tuturnya.

Aher menghimbau kepada semua pihak seperti pelaku agriibisnis, rumah tangga, pasar dan industri untuk tidak membuang limbah apapun ke sungai citarum.

“Selesailah masalah kalau itu terjadi. Orientasi kita adalah bagaimana menyelesaikan limbah, kalau para pihak bersepakat dan berkomitmen menyelesaiakan masalah limbah ya selesai urusan. Cuma tadi kan kita evaluasi kalau pergerakannya kurang cepat, cepetin dong kira-kira begitu,” terangnya.

Sebagai informasi, jumlah industri di sepanjang sungai Citarum yang notabene hampir 30 Km dari mata air di Gunung Wayang hingga bermuara di Tanjung Kawarang, berjumlah 608 industri.

Terbanyak adalah industri tekstil yang berjumlah 468 buah. DAS citarum hulu di Kabupaten Bandung menjadi daerah terbanyak keberadaan industri yaitu 325 buah, Kota Cimahi 101 buah dan 90 industri di Kota Bandung.

“Sekarang sudah sampai di angka 70 Km sampah kasat mata bukan sampah cair sudah sangat berkurang signifikan, tapi kan mesti dihitung juga kiri kanannya DAS Citarum ada 13 anak sungai, itu juga menjadi bagian dari program,” tegas Aher.

Aher menuturkan, rencananya, desa berbudaya lingkungan atau Ecovillage di areal DAS Citarum jumlahnya akan diperbanyak.

“Dilapangan kita kan sudah membentuk Ecovillage atau desa berbudaya lingkungan yang dilintasi oleh sungai citarum dan kita sepakati ecovillage akan diperbanyak,” ucapnya.

Ecovillage adalah sekelompok orang di setiap desa yang sudah sadar lingkungan, mereka dilatih dan dididik untuk menjaga lingkungan khususnya kebersihan sungai Citarum.

Tugas mereka melakukan kerja bakti membersihkan sungai dari sampah dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah apapun ke sungai citarum.

“Sebetulnya kan sederhana ini hanya masalah perilaku saja,” pungkas Aher.

(mam/jpg/JPC)